Hidayatullah.com–Kepergian mantan Panglima ABRI Jenderal (Purn) Leonardus Benyamin Moerdani, setidaknya telah menorehkan catatan penting dalam sejarah politik Indonesia hingga kini. Sejumlah kalangan militer Indonesia, memandangnya sebagai sosok penting dan banyak berjasa. Terutama tatkala almarhum dianggap sebagai peletak modernitas ABRI. “Pada masanya, Beliau telah banyak memberikan jasa kepada ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Sebagai rasa hormat atas jasa-jasa itu, saya memerintahkan untuk mengibarkan bendera Merah Putih setengah tiang di markas-markas TNI selama tujuh hari,” kata Endriartono seusai memimpin Apel Persada dalam upacara pemakaman. Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono, (SBY), menilai, di tangan Moerdani ABRI bisa berkembang secara profesional. “Bukan hanya menjadikan lembaga intelijen berkembang secara profesional, tapi juga banyak hal, seperti perkembangan senjata yang lebih modern, pendidikan, latihan, dan kerja sama dengan negara lain di bidang pertahanan,” ujarnya dikutip Kompas. Tak hanya kalangan militer, mantan Presiden RI, Abdurahman Wahid (Gus Dur), menilai mendiang sebagai seorang prajurit yang kesatria. “Beliau seorang ksatria,” kata Gus Dur seperti ditulis dalam pengantar biografi LB Moerdani. Dalam pada biografi “Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan, 1993”, Gus Dur menyebut jenderal ini sebagai guru politiknya. Tokoh CSIS, Harry Tjan Silalahi bahkan menilai LB Moerdani sebagai pahlawan dan patriot sejati Indonesia. “Kita menamakannya Patriot 24 Karat,” tuturnya. Tapi sejumlah kalangan Islam menilai sebaliknya. Mantan Menhankam-Pangab ini dianggap sebagai tokoh penting dan menorehkan luka paling mendalam dalam berbagai kebijakan politik terhadap umat Islam Indonesia. Sekretaris Umum Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) menilai, Moerdani lah tokoh penting yang menjadikan umat Islam berhadap-hadapan dengan militer dan pemerintah. Dia telah meletakkan kebijakan yang antagonistik dan menghapkan umat Islam dengan tentara dan pemerintah, ujar Hussein pada Hidayatullah.com. Indikasinya, kata Hussein, adalah sejumlah rekayasa politik yang banyak melukai umat Islam. Diantaranya kasus pembajakan pesawat Woyla, Komando Jihad (Komji). Bahkan munculnya istilah ekstrim kanan (EKA) dan ekstrim kiri (EKI), kebanyakan dari dia, tambah Hussein. Menurut Hussein, Beni pulah-lah tokoh penting dibalik penghapusan pusat rohani (pusroh) Islam di lingkungan ABRI sehinggap membuat tentara yang beragama Islam kehilangan hak memperoleh pendidikan keagamaan. Dulu, kita mengenal imam-imam tentara di lingkungan ABRI. Sejak Moerdani berkuasa, pusroh-pusroh ini dihapuskan, ujarnya. Kesan yang menyakitkan tentang sosok Moerdani datang dari Irfan S Awwas. Menurut Sekretaris Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) ini, Moerdani lah awal mula terjadinya penangkapan dan penculikan terhadap aktifis Islamtanpa dasar hukum. Jika di beberapa media massa kalangan militer menganggapnya sebagai sosok yang tegas, itu memang benar. Maksudnya, tegas dalam memberangus aktifis Islam tanpa proses hukum, ujarnya pada Hidayatullah.com melalui sambungan telepon. Irfan menilai, apa yang dikembangkan dalam tubuh ABRI sejak zaman Moerdani berbeda jauh dengan ABRI di zaman Jenderal Soedirman. Di zaman Panglima Besar Soedirman, ABRI sangat dekat dengan rakyat dan umat Islam. Di zaman Moerdani, ABRI memusuhi umat Islam, kata mantan aktifis yang pernah dipenjara dalam kasus Usroh dan Asas Tunggal ini. Karena itu, tambah Irfan, bisa saja kalangan militer dan kaum nasionalis menganggapnya sebagai pahlawan. Tapi bagi kami, dia itu Dajjal, kata Irfan. (cha)