Hidayatullah.com–Dari 204 calon ketua umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, 90 orang di antaranya telah dicoret karena tidak memenuhi syarat. Dengan demikian, saat ini tinggal tersisa 114 orang calon yang siap diajukan dalam sidang Tanwir yang berlangsung 1 Juli 2005 mendatang.
Anggota tim seleksi calon ketua umum PP Muhammadiyah, Nadjib Hamid mengemukakan hal itu kepada wartawan di Surabaya, Senin (13/6), usai menyampaikan undangan kepada Gubernur Jatim, Imam Utomo untuk hadir dalam Muktamar Muhammadiyah di Malang pada 3-8 Juli 2005.
Menurut Nadjib, dijadwalkan pada 2 Juli 2005, sudah terseleksi sebanyak 39 orang, selanjutnya akan diseleksi lagi menjadi 13 orang calon ketua umum PP Muhammadiyah yang akan memperebutkan posisi puncak organisasi massa Islam ini.
"Ke 13 orang inilah yang akan bersidang pada 7 Juli 2005 untuk menentukan siapa di antaranya yang akan memimpin Muhammadiyah," ujar Nadjib yang juga Wakil Sekretaris PW Muhammadiyah Jatim ini.
Menurutnya, seleksi dilakukan sejak 204 formulir masuk pada panitia seleksi. Pada awalnya dari 204 formulir yang masuk, diseleksi menjadi 150 orang, dari 150 orang tersebut, ternyata 15 orang di antaranya dalam formulir tersebut menyatakan tidak bersedia memimpin Muhammadiyah sehingga tinggal 135 orang.
"Seleksi berikutnya, dari 135 tersebut, ternyata enam orang di antaranya tidak memenuhi syarat berdasarkan aturan yang telah ditentukan, sehingga tersisa 129 orang. Dari jumlah itu, setelah diteliti lagi, ternyata sembilan orang di antaranya masih harus dikonsultasikan ke pusat karena ada kendala administrasi," katanya.
Kendala itu, lanjut Nadjib, karena sembilan orang tersebut ada yang belum memiliki kartu tanda anggota (KTA) selama satu tahun atau belum pernah menjabat selama satu periode di PP Muhammadiyah, atau belum pernah menjabat selama dua periode di PW Muhammadiyah.
"Karena itu, perlu kami konsultasikan pada pusat, karena hal itu menyangkut persyaratan administrasi, di samping itu enam orang lagi saat ini sedang rangkap jabatan di politik," katanya.
Untuk kasus ini, ujar dia, pihaknya memberikan pilihan pada mereka, ikut dalam bursa pemilihan calon ketua umum PP Muhammadiyah dengan konsekuensi harus mundur dari jabatan politik. "Jika tidak mau mundur, tentu saja pencalonan mereka secara otomatis akan gugur. Jadi yang sampai kini tidak ada kendala ya tinggal 114 orang itu saja," katanya.
Beberapa nama yang "tidak bermasalah" tersebut di antaranya adalah Prof Dr Malik Fadjar, Prof Dr Fasichul Lisan dan Dr Muhajir Eefendi dari Jawa Timur, sedangkan dari DIY diantaranya adalah Dr Amin Abdullah, Dr Abdul Munir Mulkan dan Muqoddas. Sementara dari DKI Jakarta adalah Dr Din Syamsudin, Dr Muslim Abdurrahman dan Dr Rizal Sukma.
Empat nama yang dianggap tidak bermasalah itu; Prof. Dr Amin Abdullah, Prof. Dr Abdul Munir Mulkan, Dr Muslim Abdurrahman dan Dr Rizal Sukma dikenal tokoh mengusung liberalisme di tubuh Muhammadiyah.
Amin Abdullah adalah Rektor IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, yang juga dikenal sebagai penggagas hermeneutika (studi kritik) terhadap Al-Qur’an di kampus-kampus IAIN. Rizal Sukma, pernah gagal maju dalam pemilihan Ketua Pemuda Muhammadiyah di Asrama Haji Sukololilo. Lulusan politik internasional lulusan London School of Economics itu kini menjadi Director of Studies The Centre for Strategic and International Studies (CSIS), lembaga think-tank yang dulu disebut-sebut dekat dengan pak Harto dan LB. Moerdany. CSIS pernah dianggap sangat banyak menyakiti umat Islam karena berbagai usulan kebijakannya.( ant/cha)