Hidayatullah.com–Tokoh agama Sumatera Barat (Sumbar), Buya Mas`oed Abidin mengingatkan semua elemen supaya insiden `Priok Berdarah` dijadikan pembelajaran agar tak mengulangi jejak yang sama di tempat manapun pada negeri tercinta ini.
“Kita harus arif dan tidak mengulangi jejak yang sama di lain waktu dan pada tempat yang berbeda di Republik Indonesia,” kata mantan Ketua Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII) Sumbar itu, ketika diminta pandangannya di Padang, Jumat.
Insiden berdarah terjadi di Tanjung Priok, Jakarta, antara masyarakat dengan Satpol PP di kawasan Makam Mbah Priok pada (14/4), saat rencana eksekusi bangunan di seputar Makam tokoh Islam yang menyebabkan tiga tewas dan puluhan luka-luka sehingga menjadi perhatian publik.
Menurut Buya, insiden yang menimbulkan korban jiwa akibat bentrokan massal itu terjadi akibat hanya mengendapan kepuasan.
Selain itu, disebabkan semua elemen sudah kehilangan kearifan, bagaimana bisa mengatasi kemelut yang terjadi. Jika salah dalam menerapkan kebijakan, akibatnya fatal dan kerugian harta dan nyawa tak terelakan.
Bahkan, lebih dari itu peristiwa yang terjadi telah merusak tatanan kehidupan dalam berbangsa.
“Kita sudah kehilangan karakter, watak berbangsa, dan bernegara, dihinggapi penyakit amuk dan anarkis,” ujarnya.
Untuk itu sistem pendidikan di negeri ini dalam jangka panjang perlu diubah, dan pendidikan karakter berbangsa mesti dikedepankan, yang basisnya adalah akhlak mulia dan etika religi, serta nilai-nilai mulia dari ajaran agama.
Menurut Wakil Ketua MUI Sumbar itu, penguasa harus tahu mana dan bagaimana semestinya bertindak. Rakyak pun mesti mengerti bagaiman bereaksi.
Pada fakta yang terjadi, insiden `Priok Berdarah` tak terlepas dari proses pendidikan, makanya ini harus dijadikan pembelajaran bagi semua.
“Kita sedih dengan perilaku masyarakat yang hilang kesabaran. Aparat juga hilang kearifan. Bila sudah begini siapa lagi yang harus disalahkan?” katanya mempertanyakan. [ant/hidayatullah.com]