Hidayatullah.com–Revolusi yang terjadi di Timur Tengah adalah proses demokratisasi yang dihembuskan Barat di semenanjung Arab.
Hamdan Basyar, pengamat Timur Tengah dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) menyampaikan hal ini pada talkshow Halaqah Islam dan Peradaban (HIP) edisi ke-28 di Jakarta, Minggu (20/3).
“Ini proyek demokratisasi oleh Barat,” ujar Direktur Eksekutif ISMES (Indonesian Society for Middle East Studies) tersebut di hadapan peserta yang memadati Auditorium Adhiyana, Wisma Antara.
Hamdan juga mempertanyakan situasi politik yang sebenarnya. “Apa benar telah terjadi revolusi di Timur Tengah?” katanya.
Dikuatkan oleh Jubir HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) Ismail Yusanto yang menilai bahwa Barat memiliki banyak kepentingan di semenanjung Arab. “Menjaga keseimbangan kekuatan antara Suni, Syiah, dan Zionis serta mengamankan suplai minyak,” sebutnya.
“Juga kepentingan geopolitik yang lebih luas,” lanjut Ismail ketika berbicara pada diskusi yang mengangkat tema “Lonceng Kematian Rezim Boneka di Dunia Islam” ini.
Selain kedua tokoh di atas, pembicara lain pada talkshow gelaran HTI tersebut; Cholis Akbar (Pemimpin Redaksi Hidayatullah.com) yang diwakili Thoriq, Herry Nurdi (mantan Pemred majalah Sabili), dan Wachiduddin (pemerhati politik Islam dan Timur Tengah), juga menuding Barat sangat menginginkan sistem demokrasi bisa tegak di wilayah Arab.
Menurut Thoriq, pemberitaan di media massa pun digiring ke arah situ. “Opini syariat Islam di Timur Tengah coba ditutupi oleh media,” sahut lulusan Al-Azhar Mesir ini.
Herry Nurdi bahkan menganggap Wikileaks sebagai trigger Barat untuk perubahan politik di negara-negara Islam. “Yang seharusnya kebakaran jenggot Amerika, tapi kenyataannya tidak,” ujarnya.
Sementara Wachiduddin berpendapat bahwa aspek militer juga digunakan Barat untuk menancapkan taring demokrasinya di Timur Tengah. Dia setuju bahwa militer sebagai pemegang kunci revolusi telah di-setting oleh Barat ketika ditanya Karebet Widjajakusuma, host acara yang mengupas “Prospek Islam Versus Demokrasi Kapitalis dalam Arus Revolusi Timur Tengah” ini.*