Hidayatullah.com — Menteri Agama Suryadharma Ali kembali menegaskan bahwa sulit menemukan hubungan Pesantren Al Zaitun dengan NII KW9. Dirinya juga mempersilahkan kepada pihak manapun untuk membuktikan jika ada keterkaitan Pesantren yang didirikan Panji Gumilang tersebut dengan Negara Islam Indonesia (NII).
“Silakan buktikan, jangan hanya kata orang. Kalau kita menuduh tanpa ada bukti dikhawatirkan hanya akan menjadi fitnah,” katanya kepada wartawan di Bandung usai dirinya melantik jajaran pengurus PPP Jawa Barat, Ahad petang, (15/5).
Menag justru bertanya, jika memang ada bukti adanya keterkaitan antara Pesantren Al Zaitun dengan NII mengapa pihak kepolisian sampai sekarang tidak memprosesnya secara hukum.
Terkait kedatangannya ke pesantren Al Zaitun, Suryadarma Ali menjelaskan bahwa kunjungan dirinya ke tempat tersebut beberapa hari lalu merupakan sebuah langkah yang diambil pihaknya untuk melihat langsung apa yang dikerjakan di pesantren tersebut.
Menurut Menag, pihaknya hingga saat ini masih sulit mengaitkan pesantren itu dengan NII KW9. Menag menilai dari segi pengelolaan gedung, kurikulum pendidikan, biaya dan manajemen sudah menggunakan sistem yang modern.
Dirinya menambahkan selama kunjungannya di sana, dirinya juga tidak melihat tanda-tanda kalau pondok pesantren tersebut memiliki pandangan yang radikal serta ingin mencetak kader yang militan yang mengarah keras.
Menag juga mengaku, saat dirinya berkunjungan ke pesantren di Indramanyu tersebut, dirinya sempat melakukan dialog dengan pimpinan sekaligus pendiri pesantren yaitu Panji Gumilang.
“Waktu itu saya membuka dialog dan disaksikan 70-an wartawan. Saya tanyakan kepada Syeikh Panji. Wartawan banyak tanya ke saya tentang Al Zatyun ada kaitannya dengan NII. Saya tidak bisa menjawab karena saya tidak tahu,” jelasnya.
Dirinya juga menggali informasi dari Panji Gumilang soal historis dan segi pendanaan pesantren yang konon banyak anggapan orang diperoleh dengan jalan “memeras” anggotanya dengan memungut sejumlah uang.Namun Menag mendapat jawaban tidak benar dari Panji Gumilang.
Ia menambahkan, pandangannya tentang Pesantren Al Zaitun juga merupakan sebuah konfirmasi terhadap hasil penelitian yang dilakukan oleh Litbang Kementerian Agama tahun 2002 tentang keterlibatan Pesantren Al Zaitun dengan NII.
“Penelitian Badan Litbang Kementerian Agama pada tahun 2002 yang digali dari lulusan, murid, kurikulum, buku-bukunya, metode pendidikan, pendidikan ekstra kulikuler, sama dengan saya, hasilnya sulit mengaitkan lembaga Al Zaitun dengan NII,” katanya.
Pihaknya juga meminta tidak mau gegabah dalam memberikan penilian bahwa Al Zaitun ada kaitannya dengan NII karena masalah alumni atau lulusannya.
“Sudah ada puluhan ribu lulusan Al Zaitun. Kalau puluhan ribu lulusan Al Zaitun mencari kerja, lalu di cap sebagai kader Islam garis keras gimana. Padahal tidak terbukti. Saya minta semua pihak bisa arif dan bijaksana dalam menyikapi hal ini,” katanya.
Saat hidayatullah.com meminta tanggapan bahwa Forum ‘Ulama Ummat Indonesia (FUUI) pimpinan KH. Athian Ali yang mempunyai bukti-bukti tertulis dan saksi korban, Suryadarma Ali mempersilakan membuktikan dan menyerahkan bukti tersebut kepada pihak kepolisian agar segera diusut.
“Silahkan dibuktikan saja,”pintanya.
Menag juga menampik anggapan sebagian orang yang menganggap dirinya terkesan “melindungi” Pesantren Al Zaitun .
“Itu tidak benar,” sanggahnya Ketua Umum PPP tersebut.
Pujian Suryadharma Ali saat berkunjung ke Al Zaitun, dinilai Umar Abduh, Sekjen Center For Democracy and Social Justice Studies (CeDSoS), sebagai sesuatu yang mencurigakan.
Sebab menurutnya, pihak Departemen Agama (Depag) melalui Prof. Dr. Syafii Mufid, mantan BaLitbang Depag tahun 2004-2006 telah melakungan investigasi sangat lengkap menyangkut kasus tersebut.*