Hidayatullah.com—Terbunuhnya Usamah bin Ladin oleh pasukan khusus Amerika Serikat (AS) diyakini banyak pihak sebagai momentum bagi terwujudnya perdamaian dunia. Namun, analisis berbeda diungkapkan oleh Zainal Muttaqin, wartawan senior yang pernah bertugas meliput perang Afghanistan selama enam bulan pada 1990.
Zainal meyakini terbunuhnya pimpinan Al-Qaidah itu merupakan isyarat meluasnya perlawanan terhadap AS. Dalam siaran pers Zainal yang diterima hidayatullah online disebutkan bahwa sorak sorai perayaan tewasnya Usamah oleh warga AS merupakan salah satu blunder yang bakal memicu perlawanan terhadap negara adidaya itu.
“Sebab dulu pemicu lahirnya Sayyid Quthub yang patriot dan ideolog adalah sorak sorai yang sama di AS atas pembunuhan Hasan Al-Banna,” tulis Zainal.
Selain itu, blunder lain yang dilakukan AS adalah perlakukan yang tidak baik terhadap jenazah Usamah, yakni dengan cara membenamkan di laut. Bagi Muslim, jelas Zainal, setiap jenazah wajib diperlakukan dengan hormat dan sepenuhnya proses pemakaman merupakan hak keluarga.
“Ini tidak. Setelah dibunuh (Usamah, red), keluarganya malah dihina. AS gagal memahami sosiologi sederhana ini,” jelasnya.
Pokok pikiran Zainal ini ditulisnya dalam sebuah buku berjudul, “Rahasia di Balik Pembunuhan Usamah”.*