HIdayatullah.com—Semua orang tua menginginkan anaknya sholeh dan shalihat. Tapi apakah benar itu saja cukup jadi bekal anak-anak menghadapi tantangan masa depan?
“Sholih saja tidak cukup, namun anak juga harus memiliki kepercayaan diri,” demikian ungkapan mengagetkan yang dikatakan Penggiat Kekokohan Keluarga Bendri Jaisyurrahman dalam kajian Dhuha di Masjid Al-Aqsha Delatinos, BSD, Ahad 24 Oktober 2021 .
“Jika anak hanya sholih namun tidak percaya diri maka dikhawatirkan anak tidak dapat mempertahankan idealitasnya, pendapatnya, tidak memiliki pendirian yang kokoh dan mudah terpengaruh oleh lingkungan,” kata Bendri.
Jauh sebelum adanya teori dan kajian tentamg parenting, Rasulullah sudah mewanti-wanti agar kita tidak menjadi pribadi yang mudah terpengaruh, tidak menjadi pribadi yang tidak percaya diri. “Janganlah salah satu di antara kamu sekalian berimma’ah, yang jika orang lain baik maka engkau baik, dan jika mereka jelek maka engkau ikut jelek pula. Akan tetapi hendaklah engkau tetap konsisten terhadap (keputusan dirimu. Jika orang-orang baik, maka engkau juga baik; dan jika mereka jelek, hendaklah engkau menjauhinya keburukan mereka,” demikiaia mengutip sebuah hadits.
Ia selanjutnya menerangkan bahwa sikap yang berlawanan dengan percaya diri ini adalah minder, bukan malu. Malu berkenaan dengan adab dan akhlak, sementara minder berkenaan dengan kompetensi serta memandang rendah diri sendiri, menganggap diri tidak mampu.
Sedangkan sikap malu adalah sikap yang terpuji. Ia mengutip perkataan Rasulullah ﷺ yang mengatakan, “Rasa malu tidak pernah mendatangkan keburukan kecuali kebaikan.”
Sebaliknya, Orang yang tidak punya rasa malu akan berbuat sesuka hati sehingga berujung merusak.
Lantas bagaimana caranya agar anak memiliki rasa percaya diri? Ia menjelaskan bahwa sebelum menamakan rasa Percaya Diri (PD) pada anak, pertama kali orang tua hendaklah menanamkan rasa Percaya Allah (PA).
Rasa percaya Allah yang kuat inilah yang membuat Bilal bin Rabbah tidak minder dan malu walau status sosialnya rendah dan berkulit hitam. Karena ia percaya Allah telah meninggikam derajatnya dengan iman. Seperti firman Allah dalam QS: Ali Imran ayat 139 yang artinya, “Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang beriman.”
Selanjutnya dalam QS: Al Mujadalah 11 yang artinya, ”Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu kerjakan.”
Berdasarkan keterangan dari Al-Quran di atas dapat kita ketahui bahwa syarat percaya diri itu adalah Iman. Jika tidak berlandaskan iman, maka sikap percaya diri ini bisa menjadi tercela.
Bendri kemudian memberikan contoh sikap percaya diri yang tercela yaitu ketika orang terang-terangan membeberkan perbuatan maksiatnya di laman sosial dan bahkan dijadikan konten. Mereka berdalih, karena rasa percaya diri dan bukan orang munafik sehingga mengumumkan perbuatan maksiat mereka.
Padahal ini bukanlah termasuk percaya diri melainkan kebodohan. Selanjutnya ia mengutip riwayat dari Salim bin Abdullah, dia berkata, “Aku mendengar Abu Hurairah Radhiyallahu’ anhu bercerita bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda yang artinya, ‘Setiap umatku akan mendapat ampunan, kecuali mujahirin (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan yang termasuk terang-terangan berbuat dosa adalah seseorang berbuat (dosa) pada malam hari, kemudian pada pagi hari dia menceritakannya, padahal Allah telah menutupi perbuatannya tersebut, yang mana dia berkata, ‘Hai Fulan, tadi malam aku telah berbuat begini dan begitu.’ Sebenarnya pada malam hari Rabb-nya telah menutupi perbuatannya itu, tetapi pada pagi harinya dia menyingkap perbuatannya sendiri yang telah ditutupi oleh Allah tersebut.”
Menurut penulis buku Fatherman ini, orang yang percaya Allah, akan menjadi orang yang sangat percaya diri karena dia tidak merasa terhina. Sebab ketika orang menghinanya ia yakin bahwa yang mengagungkan seseorang adalah kuasa Allah.
Langkah yang kedua setelah menanamkan rasa percaya Allah adalah tender love dari ibu (penerimaan diri anak yang didorong oleh rasa cinta yang kuat dari seorang ibu). Dan terakhir dengan adanya stimulan dari seorang ayah.
Dengan tiga hal ini semoga kita semua bisa menjadi orang tua yang mampu berperan dalam menumbuhkembangkan rasa percaya diri anak serta tidak memiliki pandangan yang salah terhadap arti dari percaya diri.*/Srigustia Fitriyeni