Hidayatullah.com — Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Marzuki Ali mengajak semua khalayak untuk bersama-sama membangun masyarakat religius dan menegakkan supremasi moralitas bangsa. Hari ini bangsa Indonesia, kata Marzuki, mulai kehilangan religiusitas dalam kehidupan sehari-harinya, terkhusus di perkotaan. Keadaan ini sangat berbeda dengan kehidupan di desa yang masih sejuk, religious, dan damai.
Hal disampaikan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI Marzuki Ali saat menjadi keynote speaker pada acara dialog nasional bertajuk, “Membangun Peradaban Islam Menuju Indonesia Unggul dan Bermartabat” diselenggarakan Pimpinan Wilayah Hidayatullah Sulawesi Selatan di Aula Pascasarjana Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar, Senin (05/03/2012).
“Maka nilai pendidikan adalah hal yang utama untuk bisa menjawab masalah ini. Anak-anak kita harus dikenalkan sejak dini dengan nilai-nilai agama. Agar kelak mereka bisa membangun negeri ini menjadi negeri yang adil dan beradab,” kata Marzuki Ali.
Marzuki menambahkan, keadaan seperti hari ini, dimana banyak orang tua yang mengabaikan nilai-nilai religious, tidak bisa dibiarkan. Puasa tapi korupsi, sholat tapi maksiat, masih menjadi budaya sebagian besar mereka yang telah kehilangan nilai-nilai agama, ujarnya.
“Mereka (para koruptor, red) malah tidak malu, bahkan senyum-senyum. Kalau saya boleh jadi akan bunuh diri” ungkap Marzuki Ali di hadapan ratusan hadirin.
Lebih lanjut kata Marzuki, Islam mengharamkan surga bagi pemimpin yang mati dalam keadaan menipu rakyat. Rakyat pun diharamkan taat kepada para pemimpin yang tidak jujur, dan zalim. Rakyat hanya wajib taat kepada para pemimpin yang bermoral, tegasnya.
“Pemimpin yang bermoral adalah pemimpin yang sepenuh hati berjuang untuk kepentingan rakyat. Melihat dengan mata rakyat, berbicara dengan bahasa rakyat, dan menangis ketika rakyatnya dililit kemiskinan” tuturnya.
Mengutip Ibn Khaldun, Marzuki mengatakan bahwa ciri peradaban yang akan hancur adalah peradaban yang mendewakan harta dan menistakan ilmu, hingga hilanglah moralitas dan agamanya. Sementara beberapa ilmuwan Barat mendefinisikan peradaban sebagai institusi nilai sampai pada hal teknis yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Marzuki Ali juga menjelaskan bahwa bersyukur itu adalah orang yang bisa memanfaatkan hartanya untuk kemaslahatan. Jika hanya untuk dirinya saja maka itu belum dikatakan bersyukur, meskipun sholat dan puasa jalan terus. Oleh karena itu, pesan dia, jangan lalai ketika kaya dan jangan lemah ketika miskin. Sebab sesungguhnya ujian kesejahteraan itu jauh lebih berat daripada ujian kemiskinan.
“Itulah mestinya kita harus kembali ke agama, termasuk politik sekalipun,” tukas dia.*/Imam Nawawi