Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Indonesia Keberatan Standarisasi Kelapa Sawit AS

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 31 Maret 2012 10:49
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com–Sebagai eksportir kelapa sawit, Indonesia was-was soal rancangan regulasi baru ekspor kelapa sawit lembaga perlindungan lingkungan AS (EPA).

Environmental Protection Agency (EPA), yaitu lembaga perlindungan lingkungan Amerika, pada Desember 2011 menerbitkan analisis terkait emisi karbon yang dihasilkan kelapa sawit, yang menjadi basis rancangan regulasi baru. Sebagai salah satu eksportir kelapa sawit, Indonesia was-was mengenai rancangan regulasi tersebut. Apalagi, baru-baru ini berhembus isu bahwa Amerika memboikot ekspor minyak sawit mentah (CPO) Indonesia.

Dubes Indonesia untuk Amerika Dino Patti Djalal mengemukakan pemerintah RI dan Malaysia –salah satu eksportir besar CPO bagi Amerika–, akhir pekan lalu menemui EPA untuk menyampaikan keberatan terkait analisis lembaga tersebut, demikian dikutip Voice of America (VOA).

Dalam analisis EPA, kelapa sawit dianggap tidak memenuhi standar bahan dasar produksi bahan bakar hayati (biofuel) di Amerika, karena emisi gas CO2 yang dihasilkan dalam proses pembuatannya dinilai kurang efisien. Standar EPA mengharuskan sumber energi terbarukan, seperti biofuel, dapat mengurangi emisi CO2 minimal sebanyak 20 persen dari penggunaan bahan bakar berbahan baku minyak, sedangkan menurut perhitungan mereka, biofuel yang dibuat dari minyak sawit hanya dapat mengurangi emisi CO2 dalam kisaran 11 persen-17 persen.

Dalam jumpa pers di Washington DC hari Jumat lalu (23/03/2012), yang turut dihadiri Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia, Bernard Dompok, dan pejabat Kementerian Pertanian RI, Dino mengatakan analisis EPA itu tidak akurat, dan data serta model perhitungan yang digunakannya sudah ketinggalan zaman. Oleh karena itu, tegasnya, Indonesia bersama Malaysia akan mengajukan sejumlah analisis baru kepada lembaga itu, yang menunjukkan bahwa efek pengurangan emisi karbon dari biofuel berbasis CPO jauh di atas 20 persen.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Menurutnya, penting bagi Indonesia dan Malaysia menyampaikan keberatan dan analisis baru kepada EPA, karena standar lembaga tersebut bisa berdampak pada hubungan perdagangan.

“Kami sebutkan dampak perdagangannya. Ini bukan hanya masalah EPA saja, tapi juga punya dampak bagi hubungan perdagangan dan ini harus dilihat dengan konteks yang lebih luas,” ujar Duta Besar Dino Djalal.

Indonesia dan Malaysia mengajukan keberatan atas regulasi baru ekspor kelapa sawit badan perlindungan lingkungan AS (EPA).

Berdasarkan data Kementerian Pertanian RI, Indonesia memproduksi sekitar 21 juta ton CPO per tahun. Dari jumlah tersebut, 6-8 juta ton digunakan untuk konsumsi dalam negeri, misalnya untuk membuat minyak goreng, dan sisanya untuk ekspor. Ekspor CPO ke Amerika berkisar 5 persen-10 persen dari total produksi tahunannya.

Dino membantah isu bahwa ekspor CPO RI telah diboikot Amerika. Pasalnya, standar EPA itu belum diberlakukan. Lembaga ini, jelasnya, masih memberi waktu beberapa bulan bagi masukan dari berbagai pihak sebelum standar tersebut dituangkan dalam sebuah regulasi. EPA juga memberi tenggat waktu 27 April bagi negara-negara yang ingin mengajukan data-data baru mengenai persentase pengurangan emisi untuk minyak kelapa sawit.

“Tidak ada pelarangan ekspor minyak sawit Indonesia ke Amerika. Ini masih berjalan,” ujar Dino menegaskan.

Rismansyah Danasaputra, Direktur Tanaman Tahunan pada Kementerian Pertanian RI, kepada VOA mengungkapkan pihaknya belum menerima keluhan dari kalangan eksportir CPO dalam negeri menyangkut standar dari Amerika.

Ia menganggap aturan EPA harus ditindaklanjuti serius meskipun ekspor CPO RI ke Amerika tidak terlalu besar dibandingkan ke India, Tiongkok, dan Eropa. Apalagi, persoalan standar sebelumnya juga pernah dihadapi untuk ekspor CPO ke Eropa.

“Minyak kelapa sawit menyangkut 37 persen lahan petani, jadi pemerintah harus membela,” ungkap Rismansyah Danasaputra.*

Keterangan: Duta Besar RI untuk AS, Dino Patti Djalal (kiri) dan Menteri Perusahaan Perladangan dan Komoditi Malaysia, Bernard Dompok (23/03/2012)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Media Islamold migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Umat Muslim Diimbau Tak Ikutan Peringati April Mop
Tulisan selanjutnya TPM Bantah Pernyataan Ansyaad Mbai Kasus Prancis

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Feature

Setia dari Dulu, Kini dan Akan Datang: Kisah Pak Haji Toeng & Bu Hajjah Intang Kloter 15 KBIHU Hidayatullah Balikpapan di Haji 2026

Feature
30 Mei 2026 17:30
Iran Persiapkan Upacara Pemakaman Besar untuk Ayatullah Ali Khamenei
‘Israel’ Perketat Aturan Masjid, Pasang Pengeras Suara Harus Izin Zionis
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Terbaru

  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?