Hidayatullah.com–Sekelompok ibu-ibu berjalan menuju panggung dalam sebuah acara perayaan salah satu hari besar Islam. Acara itu ditonton oleh para pejabat hingga pengurus RT/RW yang berisi laki-laki. Berjilbab seadanya, dengan gamis hingga mata kaki dan tanpa kaos kaki. Sambil memegang rebana kelompok ibu-ibu itupun bernyanyi; “Jangan berbuat dosa…jangan berbuat dosa.”
Perumpamaan kelompok ibu-ibu yang melantunkan syair “Jangan berbuat dosa” di depan sekelompok laki-laki yang bukan muhrimnya adalah potret klise dakwah di tanah air kita hari ini. Perumpamaan yang dicontohkan Cecep Firdaus , Syuro Jamaah Tabligh (JT) di Indonesia ini sebagai gambaran berdakwah tapi dengan cara bathil.
“Ya itulah gambaran dakwah dinegeri kita ini. Banyak dari kita ingin menegakkan kebenaran (Islam) dengan cara yang bathil,” jelas Cecep Firdaus saat ditemui hidayatullah.com, di Masjid Jami Kebon Jeruk Jakarta beberapa saat lalu.
Orientasi akhirat kini telah berubah wujud dalam pembenaran-pembenaran retorika dakwah. Maksud hati ingin mewarnai umat, namun justru Islam-lah yang terwarnai oleh budaya-budaya dan cara berpikir yang bukan dari Islam, ujarnya.
“Kebanyakan dari kita telah disibukkan dengan menjadikan dunia sebagai kebutuhan, lalu kebutuhan itu tanpa kita sadari telah menjadi tujuan hidup kita. Kita jadi lupa seharusnya Allah adalah tempat tujuan itu,” jelasnya Cecep lagi.
Jualan agama, pamer eksistensi hingga pembenaran-pembenaran berlabel strategi dakwah sering menjebak proses tarbiyah umat. Padahal menurut Cecep, tarbiyah yang seharusnya justru memfokuskan seorang insan Muslim untuk memahami jadi dirinya sebagai Hamba Allah, bukan justru menghamba kepada cara berpikirnya sendiri.
“Saat ini orang disibukkan dengan alasan, padahal dalam mendengar perintah syariat, yang diperlukan adalah sami’na wa ato’na (saya mendengar dan saya taati),” jelasnya.
Cecep juga memaparkan keprihatinannya dimana ia melihat, sering para aktivis mengabaikan hal-hal prinsip dari perintah Allah, lalu menghadirkan pembenaran bahwa apa yang kita lakukan adalah bagian dari jalan menuju Allah, padahal itu bukan suatu yang dicontohkan oleh Rasulullah.
“Ada orang ingin membangkitkan ekonomi umat, namun dia lupa ekonomi itu sarana bukan tujuan. Tujuan hidup bukan ekonomi, politik tapi lebih dari itu adalah Allah Subhanahu Wata’ala,” tukasnya.
Cecep menjelaskan tentang keutamaan memahami perbedaan antara tujuan dan sarana. Politik dan ekonomi adalah perangkat dari sarana. Sedangkan orang-orang bertauhid selalu menjadikan Allah sebagai tujuan utamanya. Jika ekonomi telah menjadi tujuan, maka tidak sedikit dari kita akan disibukkan dengan urusan ekonomi dibandingkan dengan urusan agama. Dan jika politik telah menjadi tujuan, maka jangan aneh jika orang menghalalkan segala cara dan menomor sekiankan agama, terlebih ketika kita tidak bisa mengingat Allah.
“Karena itu jangan pernah menegakkan kebenaran dengan cara yang bathil,” begitu pesan Cecep Firdaus.*