Hidayatullah.com–Wawancara Rieke Diah Pitaloka dengan sebuah stasiun televisi (TV) terpaksa dibubarkan masyarakat. Kejadian ini terjadi di lokasi kebakaran Pondok Bambu Jakarta Timur. Masyarakat mengaku merasa tersinggung karena menganggap Rieke menuduh kebakaran di tempat tersebut dilakukan sengaja. Padahal menurut kesaksian Haji Ali, tokoh masyarakat setempat kebakaran itu murni musibah dan tidak dibuat-buat.
“Ya kami tersinggunglah, masa kita jelasin bahwa ini kebakaran, dia (Rieke) malah nyeletuk terbakar apa dibakar?,” jelas Haji Ali kepada hidayatullah.com, Jum’at (24/08/2012).
Selain itu, masyarakat juga merasa tersinggung karena Rieke dinilai memanfaatkan musibah tersebut untuk kampanye salah satu Calon Gubernur di DKI Jakarta. Terlebih pakaian yang digunakan Rieke adalah pakaian kampanye salah satu kandidat gubernur di Jakarta.
“Gue kagak peduli mau Pilkada kek mau kagak kek, tapi jangan politisir penderitaan masyarakat seperti ini dong, masyarakat bukannya dibantu malah jadi bahan kampanye,” tambah Haji Ali.
Menurut Haji Djamaludin tokoh masyarakat setempat lainnya juga membenarkan pendapat Haji Ali. Menurutnya, Rieke sangat tidak sopan dengan melakukan kampanye di tengah kondisi masyarakat yang sedang terkena musibah. Terlebih judul yang dipilih stasiun TV terkait sangat menyakiti hati masyarakat. Teks judul berita dari stasiun TV yang bertuliskan “Dibakar atau Terbakar” menurut Djamaludin sangat menyakiti perasaan masyarakat.
“Kan itu namanya merendahkan masyarakat di sini. Kesannya ada kemungkinan masyarakat sini sengaja membakar kampungnya sendiri, buat apa coba?,” jelas Djamaludin saat ditemui di lokasi kejadian.
Sementara tu, anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan yang sedang ditugaskan menjadi menjadi Tim Pemenangan Jokowi-Ahok, ini menuduh acara dialognya gagal karena diserang sekelompok orang yang diduga dari FPI.
“Saat sedang Live di TV One, tiba-tiba di serbu oleh segerombolan orang yang disinyalir oknum FPI,” tegas salah satu staf ahli Rieke, Nyumarno dikutip Seru.com, Kamis (23/08/2012).
Menurut Haji Ali dan Haji Djamaludin, pembubaran itu adalah aksi masyarakat secara spontan. Adapun FPI pada saat itu coba menenangkan masyarakat untuk tidak terpancing kekerasan. Hal inipun langsung dibenarkan oleh Maman Suryadi Panglima Tertinggi Laskar FPI.
“FPI disini dari hari kejadian, Selasa, (21/08/2012), tugas kami adalah menyalurkan bantuan dan membantu masyarakat dan keamanan. Saat kejadian ibu Rieke itu, kami justru mencoba menengahi dan menenangkan masyarakat,” jelas Maman kepada hidayatullah.com. [baca: FPI Turunkan Laskar Bantu Korban Kebakaran di Jakarta].
Menurut masyarakat setempat. Penyebab kebakaran di Pondok Bambu Jakarta Timur itu sendiri berasal dari konsleting arus pendek listrik. Kondisi kampung yang sepi karena masih suasana lebaran membuat banyak orang tidak menyadarinya. Masyarakat baru sadar setelah api melahap setengah bengkel furniture dan melebar sekitarnya. Mobil pemadam kebakaran sendiri baru datang kurang dari setengah jam setelah masyarakat mengetahui mengenai kebakaran tersebut.*