Hidayatullah.com–Traditional Islamic Medicine (TIM) diluncurkan menandai secara resmi para terapis Hidayatullah dalam wadah Rumah Sehat – Darusy Syifa. TIM diresmikan oleh Ketua Departemen Ekonomi Pimpinan Pusat (PP) Hidayatullah, Hasan Ibrahim, di Aula Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah Depok Ahad, (23/02/2014).
“TIM dibentuk untuk menyatukan para terapis yang selama ini mandiri, untuk disatukan dalam satu wadah yang bernama Rumah Sehat-Darusy Syifa (RSDS),” jelasnya ketua panitia acara Awaluddin Abu Zidan pada hidayatullah.com di Cilodong Senin,(24/02/2014).
Pasca peluncuran, TIM akan segera bekerja sama dengan asosiasi-asosiasi thibbun nabawi yang telah terdaftar di Dinas Kesehatan RI .
Deklarasi TIM dirangkai dalam pertemuan dan pelatihan Upgrading Terapis Thibbun Nabawi Hidayatullah di Cilodong, Depok, Jawa Barat, Jumat-Senin, 21-24 Rabiul Akhir 1435 H (21-24/2/2014). Kegiatan ini mengusung tema “Jauhkan Umat dari Syirik, Subhat dan Haram – Thibbun Nabawi Solusinya”.
Kegiatan tersebut dibuka oleh Ketua APHIDA Dr Gunawan Syamsu, serta ditutup secara formal oleh Pimpinan Umum Hidayatullah Ustadz Abdurrahman Muhammad. Dihadiri sekitar 26 orang utusan berbagai Pimpinan Wilayah (PW) dan Pimpinan Daerah (PD) Hidayatullah se-Indonesia.
Menurut Awaluddin Abu Zidan, pembentukan TIM didorong atas kesadaran APHIDA akan thibbun nabawi sebagai solusi pengobatan Islami bagi masyarakat.
Dijelaskan, selama ini Hidayatullah sebenarnya telah memiliki para pegiat thibbun nabawi. Namun, selain belum terkoordinasi secara resmi, juga tak semua para ahli tersebut tersebar di berbagai kampus Hidayatullah.
Selain pembentukan TIM, dalam pertemuan tersebut dicapai beberapa kesepakatan lainnya. Yaitu, setiap PW dan PD akan berupaya proaktif mendirikan balai thibbun nabawi RSDS.
Kemudian, setiap terapis di TIM diharapkan mengikuti uji kompetensi atau sertifikasi yang diadakan oleh sejumlah asosiasi yang telah terdaftar di Dinas Kesehatan RI.
“Yakni untuk terapis ruqyah melalui ARSYI, terapis bekam melalui ABI, terapis gurah dan herbal melalui ASPETRI,” jelas Awaluddin.
Kesepakatan berikutnya, TIM akan bekerja sama dengan asosiasi-asosiasi tersebut untuk mengadakan uji sertifikasi bekam yang rencananya dilakukan pada awal Mei 2014.
TIM juga sedang merancang pendirian badan usaha berupa PT atau CV yang akan menjembatani segala keperluan dan kebutuhan RSDS, berupa pembelian dan penyediaan produk.
Pertemuan tersebut juga membentuk kepengurusan TIM. Di antaranya, sebagai penasehat Ustadz Abdurahman Muhammad dan Dr Abdul Manan (Ketua Umum PP Hidayatullah). Sebagai pembina Hasan Ibrahim dan Ir Abu A’la Abdullah (Sekjen PP Hidayatullah).
Gunawan Syamsu dan Wahyu Rahman (Direktur Baitul Maal Hidayatullah) ditunjuk sebagai pengawas. Sedangkan Awaluddin sendiri dipilih sebagai Ketua TIM. Farid dan Muhammad Ali Murtadha masing-masing sebagai Wakil 1 dan Wakil 2.
Antusias Para Dai
Awaluddin menjelaskan, para peserta pelatihan merupakan peruqyah (Roqy), ahli bekam (Muhtajim), dan calon herbalis (Mu’alijz) yang juga dai-dai Hidayatullah. Mereka sangat antusias mengikuti pelatihan. Rangkaian kegiatan tersebut pun berjalan baik dan sesuai jadwal.
“Karena pemateri, baik yang dari internal Hidayatullah maupun pemateri dari luar Hidayatullah semuanya hadir dan sukses menyampaikan kajian atau presentase-nya. Proses pembelajaran juga berlangsung kondusif dan penuh semangat,” terang Awaluddin yang menggeluti thibbun nabawi sejak 2005.
Munandar, peserta asal Rejang Lebong, Bengkulu, mengaku mendapat tambahan ilmu setelah mengikuti pelatihan itu. Terutama terkait Gurah yang selama ini telah dia dalami. Senada dengan Murdianto, peserta asal Bitung, Sulawesi Utara. Baginya, ilmu thibbun nabawi dapat dijadikan modal mengembangkan dakwah Islam di daerah tugasnya.
Thabrani, mahasiswa LIPIA Jakarta asal Berau, Kalimantan Timur mengaku terkesan dengan materi pelatihan yang menjadi wawasan baru baginya. Seperti tata cara ruqyah yang benar dan berbagai titik-titik bekam.
“Pingin jadi (herbalis) setelah saya tahu bahwasanya herbalis itu salah satu medan dakwah,” ujar lajang yang diajak bapaknya ikut pelatihan ini.
Para dai tersebut pun antusias menyambut pembentuk TIM. Munandar mengatakan, dia datang satu rombongan sebanyak 5 orang, yang selama ini telah menggeluti thibbun nabawi. Dengan adanya TIM, ke depan mereka akan lebih solid.
“Teman-teman yang sudah pernah ikut latihan ruqyah. Jadi mereka itu dimantapkan, jadi kita kerja tim dan kita akan mendirikan rumah sehat itu (RSDS. Red). Merealisasikan apa yang akan direncanakan program nasional ini,” ujarnya saat ditemui hidayatullah.com usai penutupan.
Sedianya, pelatihan ini akan diikuti 60-an peserta yang telah siap. Namun, menurut Awaluddin, sebagian peserta ternyata berhalangan hadir. Sebab, di saat bersamaan sejumlah PW Hidayatullah mengadakan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil).
Para pemateri dalam pelatihan tersebut adalah pengurus Asosiasi Ruqyah Syar’iyyah Indonesia (ARSYI) Achmad Junaidi, Aris Fathoni dari Rumah Ruqyah Indonesia Jakarta, dan Direktur Klinik Sehat Jakarta dr Agus Rahmadi mewakili Asosiasi Pengobat Tradisional Ramuan Indonesia (ASPETRI).
Pemateri lainnya, Direktur Klinik BMODT Jakarta Azib Susiyanto mewakili Asosiasi Bekam Indonesia (ABI), Apoteker Pabrikasi Herbal Toga Nusantara Astria Deviani Zakaria, dan Rouf Kamil dari Asosiasi Gurah Indonesia. Awaluddin sendiri selaku Direktur RSDS Jambi, serta dari Hidayatullah Salatiga Farid Imam Prakoso (Direktur Klinik Herbal Argomas).*