Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

“Saksi Menyebutkan Ada Orang Bawa Bom Remote”

Admin Hidcom
Terakhir diupdate:
Admin Hidcom
Dipublikasikan 31 Agustus 2012 05:36
Bagikan
Ulama Madura, MUI dan saksi membeberkan adanya bom remote
Bagikan

Hidayatullah.com—Temuan terbaru bentrokan antara Sunni-Syi’ah tidak semata-mata urusan pribadi. Sebelumnya, sebagian besar media mengarahkan persoalan ini pada urusan cinta dan keluarga, seolah-olah mengabaikan urusan perbedaan akidah yang justru menjadi bibit-bibit penting konflik terjadi.

Setidaknya, ini disampaiakan tokoh NU, KH. Ali Karrar Shinhaji, yang tak lain paman dari tokoh Syiah di Sampang, Tajul Muluk (pembawa ajaran Syiah di Sampang) dan Roisul Hukama, mantan penganut Syiah yang telah rujuk ke akidah Ahlus Sunnah [Baca juga: Bentrokan Bukan Karena Urusan Asmara].

Sebab menurut Abuya Ali Karar, Pimpinan PP Daruttauhid, Desa Lenteng, Kecamatan Proppo, Kabupaten Pamekasan ini,  urusan cinta dan keluarga sudah lama selesai. Persoalan baru menjadi urusan akidah setelah adik Tajul Muluk, Rois keluar dari ajaran Syiah dan kembali ke Ahlus Sunnah (kembali pada NU, red). Persoalan ini muncul pasca datangnya Tajul dari Iran (pusat ideologi Syiah).

Perbedaan-perbedaan yang tajam kedua bersaudara ini bahkan ikut membuat para ulama Madura melibatkan diri menyelesaikan persoalan yang ada, guna membantu pemerintah. Di antaranya yang dilakukan ulama Madura adalah mendatangkan langsung Tajul Muluk, serta memintanya kembali ke ajaran yang benar. Penyelesaian ini tak bisa tuntas hingga akhirnya muncul kerusuhan pertama 29 Desember 2011. [Baca: Kronologis Ajaran yang Dibawa Tajul Muluk Sejak 2006]

Karena seriusnya masalah ini dan dikhawatirkan berdampak konflik lebih luas, para ulama melakukan kajian mendalam atas ajaran yang dibawah Tajul Muluk setelah datang dari Iran.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Temuan ini berdasarkan kajian lebih dari 50 ulama ini disampaikan dalam sebuah pernyataan sikap tepat hari Senin 21 Muharram 1427 H atau bertepatan dengan tangga 20 Februari 2006, sebelum media-media gencar menyerhanakan persoalan konflik ini semata-mata urusan cinta dan keluarga. [22 Dakwaan yang Tuduhkan Pada Tajul Muluk]

Diledakkan?

Selain bukan semata-mata karena urusan cinta dan keluarga, hasil investigasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur atas kerusuhan kedua, Ahad, 26 Agustus 2012 pukul 10.00 WIB di desa Karang Gayam Kecamatan Omben cukup mengagetkan.

Berdasarkan hasil penelusuran MUI yang dilakukan sehari sesudah bentrok  antara warga masyarakat dari dua desa, yaitu  dusun Nangkernang – desa Karang Gayam – Kecamatan Omben dan desa Blu’uran – Kecamatan Karang Penang Kabupaten Sampang Madura, ada “tangan-tangan” lain yang ditengarai telah mempersiapkan peristiwa ini menjadi kasus besar. Terbukti banyak saksi melihat adanya ledakan cukup besar dari dalam rumah Tajul Muluk, yang belakangan diketahui bahwa ledakan tersebut dipicu oleh remote control yang di bawah seseorang saat aksi berlangsung.

***

Seperti diketahui, pasca Tajul Muluk dinyatakan bersalah pengadilan, masyakat desa Karang Gayam terus mendesak kalangan ulama Madura (Bassra) agar desanya bebas dari Syiah dan anak-anak yang telah disekolahkan Tajul di sekolah-sekolah Syiah seperti di Bangil dan Megelang dikembalikan.

Di saat pembahasan penanganan masalah anak-anak yang telah terlanjur dikirim ke pondok-pondok Syiah masih dibahas pihak ulama, kepolisian dan   pemerintah daerah, di mana disepakati tanggung jawab pemulangan dan beasiswa pendidikan pasca pemulangan ditanggung Pemkab Sampang, tiba-tiba masyarakat menyaksikan anak-anak para pengikut Syiah yang dipondokkan ke YAPI Bangil dan Pekalongan akan kembali pasca libur lebaran.

“Padahal, masyarakat meyakini bahwa anak-anak tersebut tidak akan kembali lagi ke YAPI Bangil dan Pekalongan karena dijamin beaya pendidikannya oleh Pemkab Sampang untuk disekolahkan di lembaga pendidikan dan pesantren di Sampang,” ujar Sekretaris MUI Jatim, yang juga salah satu tim MUI dalam kasus Sampang ini kepada hidayatullah.com, Rabu (29/08/2012).

Melihat itu, masyarakat menilai kalau mereka tetap kembali lagi, justru akan menjadi kader Syiah dikhawatirkan akan menjadi persoalan baru yang lebih besar di kemudian hari.

Karena pemahaman itulah akhirnya masyarakat Karang Gayam mencegah anak-anak yang akan kembali sekolah di sekolah-sekolah Syiah itu untuk bisa kembali ke masing-masing.

“Tidak ada sedikitpun kekerasan dilakukan dan masyarakat. Dan tak ada yang membawa senjata tajam,” tambah Yunus.

Selama perjalanan kembali tidak ada tanda-tanda perlawanan dari mereka sampai mendekati rumah kediaman Tajul muluk, hingga adanya adu mulut antara komunitas Syiah dengan masyarakat setempat yang mayoritas NU. Dari situlah terjadi insiden bentrok.

Bentrok memancing masyarakat masuk ke pekarangan rumah Tajul hingga terdengarlah bunyi ledakan dari dalam rumah Tajul yang diklaim banyak orang sebagai sebuah ranjau dan bom remote yang telah dipersiapkan.

Rupanya, efek ledakan ini berimbas keluar dan menyasar pada warga yang akan merangsek ke rumah Tajul.

“Sehingga ada beberapa masyarakat yang terluka oleh serpihan dari ledakan yang berupa kelereng, baik yang masih utuh maupun yang pecah,” tambah Yunus.

Tuduhan adanya bom remote ini juga dibenarkan Ridho’I, Ketua Banser Sampang.

“Ya benar. Banyak saksi menyebutkan ada orang bawa bom remote,” ujarnya saat dikonfirmasi hidayatullah.com.

Banyaknya korban berjatuhan di pihak masyarakat di luar Syiah rupanya memancing masyarakat lain meminta bantuan dan mengambil persenjataan. Sebagian bahkan menyuarakannya lewat teriakan dan  pengeras suara yang ada di Mushollah. Dari situlah bentrok lebih besar dari kedua belah pihak yang sama-sama membawa senjata tak terhindarkan.

Nah, siapa yang membawa bom remote? Dan benarkah kasus ini telah dipersiapkan lama agar kasusnya bisa menjadi masalah besar? Tentu tugas aparat mendalaminya.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:old migrate
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Riset: Khitan Sejak Kecil Bagus untuk Kesehatan
Tulisan selanjutnya Anggota Navy SEAL Bikin Buku Bagaimana Usamah Ditembak

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Bendera Palestina dan Bendera Irlandia di Balai Kota Dublin
Berita

Irlandia Bakal Larang Impor dari Permukiman ‘Israel’ Mulai Pertengahan Juli

Berita
1 Juni 2026 11:20
Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
Warga Yunani Didakwa Membantu Iran untuk Menarget Jurnalis di Inggris
Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
Kementerian Kesehatan Gaza: 33 Orang Syahid Ditembak Israel saat Libur Idul Adha

Terbaru

  • Turki Tegaskan Komitmennya untuk Perkuat Keuangan Syariah
  • Fatah Tunjuk Hussein al-Sheikh Jadi Wakil Mahmoud Abbas
  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?