Hidayatullah.com—KH Buchori Ma’sum, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sampang menegaskan bahwa selama masih ada ajaran sesat yang ingin merusak Islam, maka kerukunan umat beragama di Indonesia akan selalu terganggu. Terkait kasus Sampang sendiri, Buchori menjelaskan bahwa sikap Tajul Muluk yang mengajarkan ajaran yang tidak sesuai Islam itulah penyebab konflik Sampang terjadi.
“Salah satu kesesatan itu adalah ia mengatakan Al Qur’an yang kita (Umat Islam) yakini sekarang sudah tidak orisinal,” jelas Buchori Ma’sum dalam acara “Halaqoh Peradaban” di Auditorium Adhiyana Wisma Antara Jakarta Pusat. Ahad (16/09/2012).
Selain itu, menurut Buchori, kesesatan lain ajaran Tajul Muluk adalah Rukun Imannya menolak dua kalimat Syahadat (Syahadatain). Rukun Iman pertama Tajul adalah langsung masuk ke Bab Sholat. Tajul Muluk juga mengatakan bahwa Malaikat Jibril setelah meninggal Rasulullah Saw masih menurunkan wahyu ke Fatimah. Fatimah adalah anak Rasulullah yang menjadi istri Ali Bin Abu Thalib ra.
“Ada 22 hal perbedaan ajaran Syiah Tajul Muluk dengan Islam. Bahkan adzan, Sholat jenazah berbeda. Tajul menyakini daerah di luar kekuasaan ajarannya sebagai musuh,” jelas Buchori.
Namun, Buchori mengakui Tajul memiliki sikap berbeda antara fakta dan saat dia dikonfirmasi mengenai fakta-fakta tersebut. Hal ini dikarenakan ada ajaran sesat lainnya yang diyakini Tajul yaitu berbohong demi agamanya adalah ibadah. Dalam kenyakinan Tajul hal ini diyakini sebagai ‘ibadah’ Taqiyah. Dari sinilah Tajul sering tidak mengakui kepada masyarakat luas tentang kelakuan aslinya itu. Tajul dinilai sering berbohong ketika menjelaskan fakta Sampang ke media-media Indonesia menurut KH. Buchori.
Hingga berita ini diturunkan acara masih berlangsung. Acara ini sendiri dihadiri oleh Komisioner Komnas HAM Saharudin Daming, Ustad Rahmat Kurnia Ketua DPP Hizbut Tahrir dengan host da’i muda Iwan Januar.*