Hidayatullah.com– Wakil Ketua Advokat Cinta Tanah Air (ACTA), Dahlan Pido, menilai, puisi Sukmawati Soekarnoputri sangat menyinggung dan melukai perasaan umat Islam.
“Menurut kami bahwa itu hal yang tidak sopan dan melukai perasaan umat Islam, karena dalam puisi itu mengandung simbol dan syariat Islam,” ujarnya kepada hidayatullah.com Jakarta, Selasa (03/04/2018).
Baca: Diduga Menghina Agama, Sukmawati Soekarnoputri Dipolisikan
Dahlan menambahkan, puisi yang dibacakan oleh Sukmawati sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang dihormati ayah Sukmawati, sang Prokalamator RI, Soekarno.
“Jika tidak paham sebaiknya belajar atau bertanya kepada yang paham,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa Sukmawati melanggar Pasal 165 KUHP tentang penistaan agama.
Diketahui, pasal tersebut sebelumnya dilanggar oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang divonis bersalah sebagai terpidana penistaan agama oleh Majelis Hakim Pengadilan Jakarta Utara.
Baca: KSHUMI: Kasus Sukmawati Penuhi Unsur Pidana Penodaan Agama
Berikut transkrip lengkap puisi Sukmawati yang dibacakan di JCC, Senayan, Jakarta, tersebut:
“Ibu Indonesia
Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu sari konde ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus ujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka
Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut
Lihatlah ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing
Supaya kau dapat mengingat
Kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi, dan kreatif
Selamat datang di duniaku, bumi Ibu Indonesia
Baca: Puisi Sukmawati Soekarnoputri ‘Sudutkan’ Syariat Islam, Cadar, dan Adzan Dinilai Menyinggung SARA
Aku tak tahu syariat Islam
Yang kutahu suara kidung Ibu Indonesia, sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan adzan mu
Gemulai gerak tarinya adalah ibadah
Semurni irama puja kepada Ilahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun
Canting menggores ayat ayat alam surgawi
Pandanglah ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar
Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala riwayat bangsa beradab ini cinta dan hormat kepada ibu Indonesia dan kaumnya.”* Zulkarnain