Hidayatullah.com–Dari tahun 2010 hingga 2011, konsumsi beras Indonesia semakin lama semakin meningkat, tercatat dalam laporan Susenas, Badan Ketahanan Pangan tahun 2012, tahun 2010 masyarakat Indonesia mengkonsumsi beras sebanyak 100.76 dan meningkat pada tahun 2012 menjadi 139 kilogram per kapita per tahun. Ini berbeda dengan negara Asia lainnya seperti Jepang yang hanya mengkonsumsi beras sebanyak 80 kilogram.
Data yang dimiliki Pemerintah Kota Depok, tiga tahun lalu Indonesia pernah menjadi negara pengkonsumsi beras tertinggi di dunia, dengan total 139,5 kilogram per kapita per tahun dibandingkan konsumsi beras dunia yang hanya 60 kilogram per kapita per tahun, Thailand 80 kilogram per kapita per tahun atau Malaysia 80 kilogram per kapita per tahun.
Tingginya tingkat konsumsi beras oleh masyarakat Indonesia membuat Walikota Depok, Dr. Ir. Nur Mahmudi Ismail merasa prihatin. Padahal menurutnya, mengurangi konsumsi beras bisa mengurangi diabetes dan obesitas.
“Diabetes Indonesia nomor empat di dunia, satu dari empat diabetes kena kanker, dua dari diabetes kena TB paru, berdasarkan data dari WHO pada tahun 2010, obesitas dunia berjumlah 1,5 miliar atau 20% sedangkan obesitas di jawa barat pada tahun 2007 berjumlah 10,37% dan obesitas di Depok pada tahun 2008 berjumlah sekitar 19,30%,” paparnya saat menjadi salah satu narasumber dalam acara Talkshow “One Day No Rice” yang diadakan Fakultas Kesehatan Masyarakat, prodi Gizi, Aula Terapung, Universitas Indonesia, Rabu (24/10/2012).
Karena itu, April lalu ia mendeklarasikan gerakan “One Day No Rice” (Sehari Tanpa Nasi) di Lapangan Tembak Cilodong, Depok.
Dengan adanya gerakan ODNR ini, ia mentargetkan konsumsi beras bisa ditekan menjadi 70 kilogram per kapita per tahun.
“Target konsumsi beras 70 kg per kapita per tahun atau setidaknya bisa menyamai Malaysia lah, 80 kg per kapita per tahun,” harapnya.*