Hidayatullah.com– Setelah dibongkar habis pasca dilalap api, pembangunan kembali Masjid Hidayatullah, Karang Bugis (Karbus), Balikpapan, Kalimantan Timur saat ini sudah hampir 17 persen. Masjid permanen pertama dalam sejarah Hidayatullah ini mulai direnovasi jelang akhir tahun lalu.
“(Pembangunannya) sudah 16,6 persen,” ujar Ketua Panitia Pembangunan Masjid Hidayatullah Ustadz Ali Mustafa Sakka kepada hidayatullah.com, Rabu (2/1/2013).
Diperkirakan sebelumnya, pembangunan Masjid Hidayatullah paling tidak selesai dalam jangka waktu minimal 6 bulan untuk penggunaan darurat.
“Insya Allah, masjid (Hidayatullah) Karbus bulan depan (Februari. red) sudah naik lantai dua,” tambah Mustafa.
Menurutnya, proses renovasi masjid yang sempat berganti nama menjadi “Al-Amin” itu selama ini tidak mengalami kendala berarti.
“Alhamdulillah, (pembangunan) masjid lancar,” aku Mustafa.
Meski begitu, panitia masih membuka kesempatan para donatur untuk berinvestasi akhirat dalam proyek tersebut.
Saat ini, dari lahan seluas 20×20 meter persegi yang digarap untuk pembangunan masjid, harga per meter tanahnya senilai Rp 6.400.000.
“Tidak perlu besar-besar, yang penting sakral,” imbuh Mustafa beberapa waktu lalu.
Panitia Pembangunan Masjid Hidayatullah, Balikpapan setidaknya membutuhkan dana Rp 6 milyar untuk merampungkan satu bangunan masjid berserta asrama santri. Pemancangan pertamanya berlangsung pada 15 November 2012, bertepatan dengan Tahun Baru Islam, 1 Muharram 1434 H. Acara ini dihadiri Walikota Balikpapan H. Rijal Effendi.
Masjid Hidayatullah didirikan oleh Pesantren Hidayatullah pada 1970-an. Dari sinilah, syiar dakwah Islam lembaga yang dilahirkan Allahuyarham KH. Abdullah Said itu mulai digencarkan ke seluruh Nusantara, terutama sebelum didirikannya kampus Gunung Tembak di kota yang sama.
Selain itu, dari sini pula banyak dilahirkan dai-dai yang dikirim untuk misi dakwah ke pelosok dan wilayah terpencil di Indonesia.
Seperti diketahui, menjelang berakhirnya bulan Ramadhan 1433 H lalu, kompleks Masjid Hidayatullah Karang Bugis dilanda kebakaran. Satu bangunan masjid dan dua asrama santri ludes tinggal puing. Peristiwa tersebut mengagetkan banyak pihak.
Hingga saat ini, proses ibadah, dakwah dan pendidikan yang berlangsung di kedua tempat itu dialihkan sementara ke tempat lain di pesantren.*