Hidayatullah.com–Lingkaran Survei Indonesia (LSI) memprediksi pertarungan Calon Presiden (Capres) dan Calon Wakil Presiden (Cawapres) dalam Pemilu 2014 tidak menampilkan satu pun tokoh dari partai Islam.
“Partai Islam dan tokohnya hanya menjadi pelengkap atau supporter dalam peta koalisi Capres. Jika mengacu pada survei LSI, peta koalisi yang persis pemilu 2009 terbuka lebar terjadi lagi pada pemilu 2014,” kata Peneliti LSI Adjie Alfaraby, dikutip KBRN hari Ahad, (17/3/2013), di Graha II Rajawali LSI Jl. Pemuda No. 70 Rawamangun, Jakarta Timur.
Adjie menyatakan, penyebab krisis Capres dan Cawapres di Partai Islam diakibatkan tiga faktor, pertama kurangnya public expose di mana hanya dibawah 30 persen publik melihat iklan, pemberitaan dan kegiatan para tokoh partai Islam.
Kedua kurangnya pendanaan yang dimiliki tokoh partai Islam. Mayoritas publik, lanjut Adjie menilai kekuatan dana penting sebagai penentu kemenangan, sementara tokoh partai Islam dinilai tidak punya cukup dana.
“Faktor ketiga yaitu Capres dari partai nasionalis dianggap mengakomodasi kepentingan Islam. 61.3 persen publik percaya bawah tokoh partai nasionalis bisa mengakomodasi kepentingan Islam,” kata Adjie.
Adapun pengumpulan data dilakukan 1 hingga 8 Maret 2013 dengan metode sampling multistage random sampling. Jumlah responden awal dilaporkan sebanyak 1200 responden dengan wawancara tatap muka responden menggunakan kuesioner, hingga margin of error kurang lebih 2.9 persen.
Terjebak Duit
Sementara itu, pakar politik Dr Yudi Latief menilai, faktor logistik (duit, red) menjadikan banyaknya degradasi identitas dalam partai berbasis Islam. Ini dinilai karena ketidakseriuasan memperjuangkan nilai ideologinya sendiri.
Yudi tidak menampik bahwa kebutuhan logistik (duit, red) menjadi salah satu senjata utama memenangkan sebuah kampanye. Ia juga mengatakan, kebutuhan logistik itu dominasi pemodal menjadi penting. [baca: Hancurnya Partai Islam Karena Terjebak Demokrasi Berbasis Logistik]
Namun justru itulah yang menjadikan banyak partai Islam terjebak dan lalu larut untuk memenuhi kebutuhan logistiknya akhirnya kehilangan identitas moralnya.*