Hidayatullah.com–Praktek-praktek Pluralisme Agama hingga kini masih saja dilakukan, baik oleh orang Islam sendiri maupun dari penganut agama lain.
Dalam kajiannya bertema “Mencermati Doktrin Pluralisme Agama” di Karanganyar, Surakarta, Associate Profesor dari Departemen Ushuluddin dan Perbandingan Agama di International Islamic University of Malaysia (IIUM) Dr. Anis Malik Thoha mengkritik aliran-aliran “sufi koplak” yang berbau pluralisme agama.
“Sufi koplak” yang ia maksud adalah aliran yang mengklaim sufi namun bercampur dengan sinkretisme.
“Menjamurnya praktik-praktik beragama pluralis, seperti aliran-aliran Sufi Koplak merupakan salah satu implikasi doktrin pluralisme agama,” terangnya, Selasa (03/09/2013) lalu.
Ia menyebutkan salah satu aliran “sufi koplak” itu seperti yang dilakukan sorang seniman berambut gimbal yang mengaku-ngaku sebagai sufi.
“Identitas sebagai sufi ternyata membawa ketenaran bagi yang bersangkutan. Tawaran terus mengalir. Bahkan Ramadhan tahun lalu, ia dipercaya mengasuh acara di sebuah stasiun televise,” ujarnya.
Anggota Jabatan Keilmuan Islam Malaysia (JAKIM) bidang akidah ini juga memperhatikan, selama Ramadhan yang bersangkutan juga membuat acara religi menggandeng penyanyi dan whirling dervish (seorang penari sufi, red.), paduan suara gereja, dan kelompok Barongsai.
Menurut Anis, ajaran sufi seperti ini sudah masuk dalam kategori menyimpang karena mengajarkan kesetaraan atau persamaan dalam beragama dan sinkretisme (percampuradukkan suatu ajaran agama, red.).
Seperti diketahui, Anis Malik Thoha menyelesaikan doctor di International Islamic University Islamabad dengan disertasi berjudul: “Al-TaÑaddudiyyah al-Diniyyah: Ru’yah Islamiyyah (Pluralisme Agama, Pandangan Islam).
Disertasinya ini mendapat tiga penghargaan sekaligus: Gold Medal dari International Islamic University Islamabad (2005), Isma’il Al-Faruqi Publications Award dari International Islamic University Malaysia (2006) dan bukunya “Trend Pluralisme Agama” mendapat Best Non-Fiction Book Award dari Islamic Book Fair 2007, Jakarta.
Kader NU yang kini mengajar di Malaysia ini mungkin satu-satunya pakar bidang pluralisme agama yang dimiliki Indonesia.*