Hidayatullah.com—Sejak masuknya tentara Amerika dan sekutunya tahun 2003, kondisi Iraq menjadi semakin tidak stabil. Masuknya Amerika mulai muncul perselisihan-perselisihan di antara kaum Muslimin, khususnya antara Sunni dan Syiah. Demikian disampaikan Dr. Ahmed Mahjoub Jubouri, salah satu peserta asal Iraq yang akan menghadiri “International Conference on Islamic Media” yang diselenggarakan oleh Robithah Alam Islamy saat berkunjung ke kantor Dewan Da’wah belum lama ini.
Menurut Jubouri, munculnya konflik berawal dari perbedaan pandangan antara Sunni dan Syi’ah terhadap Amerika.
“Orang Sunni memandang masuknya Amerika sebagai agresi atau penjajahan, sehingga sikap mereka adalah membela tanah air dengan perang bersenjata melawan Amerika. Sedangkan orang Syi’ah memandang sebaliknya, mereka memandang Amerika sebagai penyelamat mereka dari cengkeraman Sadam Hussein,” terangnya.
Sementara orang Kurdi -yang sebenarnya mereka orang-orang Sunni- hanya dikarenakan pada masa pemerintahan Sadam Hussein mereka memiliki masalah dengan pemerintahan Saddam Hussein, pandangan mereka juga mirip orang Syi’ah.
“Mereka menganggap Amerika sebagai pembebas. Sayangnya sikap mereka ini lebih banyak dipengaruhi oleh fanatisme golongan,” lanjutnya.
Akibat perpecahan tersebut, akhirnya saat ini kantong-kantong pemerintahan di Iraq, 90% dikuasi orang-orang Syi’ah. Karena saat pendudukan Amerika di Iraq, orang-orang Syi’ah aktif berpolitik hingga seperti saat ini. Imbasnya, setelah menguasai pemerintahan, termasuk dalam tubuh militer, mereka (orang Syi’ah) berani melakukan pembantaian terhadap orang Sunni.
“Ribuan orang mereka bantai, ratusan masjid mereka bakar. Bahkan orang-orang Sunni yang tinggal di tempat yang mayoritas Syi’ah lambat laun di usir. Hingga tempat tinggalmereka bersih tanpa orang-orang Sunni,” tuturnya
Baru belakangan inilah, muncul kesadaran dalam diri kaum muslimin Sunni untuk kembali berjuang melalui jalur politik. Namun, karena mereka sudah lama meninggalkan jalur politik, berbagai struktur pemerintahan di departemen-departemen di Iraq sudah dikuasai orang Syi’ah, sehingga orang Sunni mengalami kesulitan untuk kembali masuk ke pemerintahan.
“Dari mulai bidang militer, kehakiman dan media mereka (orang Syi’ah) kuasai,” jelasnya.
Karena tiga hal tersebut menjadi hal yang begitu penting untuk dikuasai oleh orang Syi’ah. Sehingga banyak kelicikan-kelicikan yang mereka lakukan.
Seperti di bidang militer, mereka berhasil menguasai hingga 97%. Ini menyebabkan orang-orang Sunni tidak bisa berkutik karena hanya menguasai 3% kekuatan di bidang militer.
“Begitu juga di bidang kehakiman, orang-orang Syi’ah banyak memutuskan perkara seenak mereka. Sehingga setiap pekan ada ratusan orang Sunni yang dijatuhi hukuman mati,” ungkapnya.*/Ruslan