Hidayatullah.com–Keterbukaan akan informasi seputar produk konsumsi masyarakat yang baik (thayyib) dan halal sangat dibutuhkan. Lebih lebih bagi konsumen Muslim.
Hal itu ditunjukkan salah satunya saat media ini berkunjung ke salah satu pusat perbelanjaan di Kota Depok, Jawa Barat, kemarin.
Pusat perbelanjaan yang tak pernah sepi ini dominan memperdagangkan kebutuhan-kebutuhan konsumsi, seperti makanan kemasan dan produk konsumsi instan lainnya.
Hampir di setiap koridor swalayan, media ini mendapati setidaknya ada 2 atau 3 konsultan produk tertentu. Rata-rata, konsultan atau tenaga direct selling marketing ini dari merek-merek ternama dan cukup populer.
Saat salah seorang konsultan sebuah produk roti cemilan instan, Fit***, yang diklaim rendah kalori dan iklannya juga kerap menghiasi layar kaca, menawari seorang customer, sang customer segera mencomot dengan ukuran secubitan roti tersebut. “Enak, ya” katanya.
Sontak konsultan pun segera menawari diskon besar apabila konsumen membeli produk tersebut hari itu juga, disertai penjelasan soal keunggulan produk tersebut dari produk lainnya sebagai makanan yang tidak bikin gemuk. Kebetulan konsumen yang disasar nampak memang cukup berbobot.
“Coba saya lihat,” kata konsumen tersebut yang persis berada di samping kanan media ini berdiri seraya meminta satu kemasan produk tersebut yang dipegang konsultan. “Saya mau, deh,” katanya.
Namun, sejurus kemudian, konsumen yang mengenakan jilbab berwarna ungu tua itu berbalik. “Mana label halalnya, logo MUI, kok gak ada ya,” katanya kemudian setelah mengamati lamat-lamat kemasannya.
“Ada kok bu, maaf,” jawab konsultan itu sambil dengan sopan sekali meminta izin melihat produk yang terkemas mewah itu untuk memastikan keberadaan logo halal. Setelah agak lama mengamati bersama, ternyata benar tidak ditemukan logo halal MUI.
“Eh, maaf bu, ternyata gak ada,” kata konsultan perempuan itu dengan sopan. Sang ibu yang sejatinya akan membeli produk itu pun memohon maaf, tidak jadi membeli seraya pamit untuk lanjut berbelanja.
“Kalau ada label halalnya saya beli, kalau gak ada, saya gak berani,” ujar ibu tersebut. Ia kemudian meninggalkan sang konsultan dengan saling melempar senyum.*