Hidayatullah.com- Kunci persaingan media massa saat ini adalah inovasi, baik majalah, online dan sebagainya. Demikian pula bagi media-media berbasis pesantren. Sudah saatnya para santri mengembangkan media di pesantrennya dengan inovasi yang lebih menarik.
Pesan ini disampaikan Pemimpin Redaksi (Pemred) Kelompok Media Hidayatullah (KMH) Mahladi kepada jajaran awak majalah Husnul Khotimah yang berkunjung ke kantor KMH, Jalan Cipinang Cempedak 1/14, Polonia, Jakarta Timur, Selasa, (18/02/2014). Para awak majalah terbitan Pondok Pesantren (PP) Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat ini sedang melakukan studi banding.
Mahladi mengatakan, jangan sampai tampilan produk jurnalistik milik pesantren monoton, begitu-gitu saja. Untuk berinovasi pun tak perlu dipaksakan. Inilah tantangan bagi pesantren-pesantren khususnya para santrinya.
Maka, ujarnya, dalam setiap pelatihan jurnalistik yang digelar KMH, yang pertama Mahladi katakan kepada para santri adalah kemauan keras mereka untuk menjadi wartawan.
“Siapa yang mau menginfakkan waktunya, melapangkan waktunya berjuang lewat ini, ayo kita bersama-sama, berpeluh bersama-sama, berpikir bersama-sama,” ujar Kepala Biro Humas Pimpinan Pusat Hidayatullah ini.
Mahladi mengatakan, di awal-awal membangun sebuah media, yang harus ditanamkan kepada para santri bukanlah hasilnya. Bukan pula dari mana iklan akan datang. Tapi utamakanlah prosesnya.
“Kalau kita tidak ditanamkan itu, maka biasanya enggak kerasan, inovasi itu buntu. Dan inovasi itu jangan dikira dengan biaya yang mahal. Tidak! Nah biasanya masalah terbesar dalam mengelola majalah di pesantren itu adalah bosan,” lanjutnya.
Pembagian Tugas
Terkait media online, Mahladi meyakini, sebuah situs harus rajin memposting (update) artikel jika ingin dikunjungi banyak orang. Jika di media umum, ranking update berpengaruh pada pemasukan melalui iklan.
“(Itu) kalau mau mencari iklan. Tapi kalau mau di pesantren atau sekolah itu saya kira tidak seperti itu (uang. Red) orientasinya,” imbuhnya.
Media-media pesantren pun, menurutnya, tetap bisa selalu memperbaharui beritanya walau dengan uang dan personel terbatas. Caranya, dengan pembagian tugas bagi tiap kru.
“Pertanyaannya adalah apakah semua keadaan bisa kita beritakan di situs kita? Semua kasus, semua masalah, semua berita, bisa kami beritakan di situs kami (hidayatullah.com, red). Namun dengan sudut pandang yang berbeda dengan media-media umum,” ungkapnya.
Mahladi menjelaskan, sudut pandang merupakan cara melihat sebuah peristiwa. Untuk menangkap sudut pandang ini, tidak bisa dicapai secara singkat.
“Enggak bisa langsung. Mantan pelatihan jurnalistik langsung bisa melihat sudut pandang yang bagus, enggak bisa, harus latihan. Harus berkali-kali. Reportase, reportase, reportase, sehingga kita bisa mendapatkan sudut pandang yang menarik,” jelasnya.
“Jadi jangan kehabisan ide. Bahkan seorang anak kecil bersepeda di depan kampus kemudian jatuh, itu berita. Apakah jalanannya buruk, apakah ditabrak, semua itu berita. Tinggal sudut pandangnya aja,” lanjutnya.
Diberitakan sebelumnya, sebanyak 33 orang dari PP Husnul Khotimah menyambangi kantor redaksi KMH. Selain bersilaturahim, mereka melakukan studi banding tentang manajemen pengelolaan media dakwah Islam berbasis majalah dan online.
“Majalah Husnul Khotimah, majalah ini baru berusia 6 tahun, baru mulai tahun 2008. Sehingga perlu banyak studi banding, melihat majalah-majalah lain yang usianya lebih dahulu daripada kami,” ujar Sanwani dalam sambutannnya.*