Hidayatullah.com–Walaupun pria mendominasi peran politik praktis, namun wacana politik juga bagian dari persoalan keumatan yang perlu dipahami oleh kaum Hawa. Kepekaan politik diperlukan supaya bisa melaksanakan tugas rumah tangga dan perannya di masyarakat. Demikian disampaikan oleh Juru Bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Iffah Ainur Rochmah, belum lama ini.
“Mereka harus ngerti bahwa hari ini perempuan didorong oleh arus besar agar mereka berbondong-bondong terjun ke dunia kerja yang menghasilkan uang padahal itu sebenarnya eksploitasi karena yang dibutuhkan oleh negara adalah pajak dari penghasilan Anda,”ulas lulusan Universitas Negeri Surabaya (UNESA) itu.
Menurut perempuan yang sudah sekitar 20 tahun bergabung bersama HTI, banyak Muslimah keliru mengartikan masalah keumatan. Topik keumatan hanya dimaknai seputar membangun rumah tangga Sakinah Mawadah wa Rohmah (SAMARA).
Padahal, keputusan pemerintah mengenai subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) menjadi bagian yang akan bersentuhan dengan agenda keuangan rumah tangga.
Ketika perempuan tidak memahami dinamika politik di negaranya, maka Ia akan lebih mudah terseret liberalisme.
Perempuan dinilai perlu memiliki skala prioritas, apakah intelektualitas mereka dikontribusikan semata-mata untuk membangun karier atau membangun kesadaran perempuan mengenai bahaya liberalisasi yang mengintai.
Iffah menambahkan, generasi berkarakter pemimpin Islam lahir dari perempuan yang memperjuangkan penegakkan syariat. Ukurannya tentu mengacu pada praktiknya di lapangan. Sayangnya, banyak perempuan acuh terhadap aturan yang akan membawa pada ketenangan menjalankan syariat. UU Jaminan Produk Halal yang tak kunjung memperoleh kesepakatan, kurang mendapat perhatian.
Melek politik membuat kaum perempuan lebih mengerti bahwa ide pemberdayaan perempuan bukan berasal dari Islam.
“Karena dalam Islam, perempuan tidak harus didorong mendapatkan uang melalui bekerja. Tapi kalau dalam sistem kapitalis hari ini, memang itulah ukuran kemuliaan perempuan. Kalau gitu orang akan ditanya, kok Anda sudah pintar-pintar, gak kerja?”
Padahal, itu merupakan strategi penjajah untuk menghancurkan bangsa melalui perempuan. Muslimah HTI melihat fenomena ini merupakan arus yang sengaja diciptakan supaya banyak perempuan berbondong-bondong keluar rumah.
“Kalau sudah keluar rumah, perempuan.secara otomatis semakin hari semakin tidak menyukai peran keibuan dan semakin tidak menganggap strategis perannya sebagai pendidik generasi,”ucap Ibu beranak dua ini.*