Hidayatullah.com–“Mari kita doakan pemimpin kita agar dibukakan mata hatinya oleh Allah, sehingga memberikan izin saudari-saudari kita untuk berjilbab, menutup aurat,” begitu ajakan Dr. Adian Husaini dalam khutbah Jumatnya di Gedung Bank Tabungan Negara, Harmoni, Jakarta (21/03/2014) yang diaminkan seluruh jamaah.
Di lokasi yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari Istana Negara, Universitas Ibn Khaldun Bogor ini menguraikan makna QS al-A’raf [7]:96, yang artinya, “Andaikan penduduk suatu wilayah mau beriman dan bertaqwa, maka pasti akan Kami buka pintu-pintu barokah dari langit dan bumi. Tetapi mereka mendustakan (ajaran-ajaran Allah), maka Kami azab mereka, karena perbuatan mereka sendiri.” (QS Al A’raf [7]:96).
Menurutnya, dalam Al-Quran Surat al-A’raf:96 tersebut dengan sangat gamblang menjelaskan, bahwa jika bangsa Indonesia mau mendapatkan kucuran rahmat dan dijauhkan dari berbagai musibah, maka iman dan taqwa harus dijadikan sebagai nilai tertinggi dalam pengambilan keputusan.
Tentu saja, yang terpenting adalah iman dan taqwa para pemimpin, baik pada tataran keluarga, masyarakat, atau negara.
Pemimpin yang beriman dan bartaqwa pasti bekerja sekuat tenaga menjalankan amanah yang wajib diembannya; mendahulukan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan golongannya; bekerja keras untuk menjaga dan membina iman dan taqwa bangsanya; bukan sekedar berkutat pada urusan dunia semata; bekerja keras mencukupi kebutuhan-kebutuhan dasar rakyatnya; takut azab Allah di dunia dan akhirat; takut mengambil hak rakyat; dan menangis jika rakyat susah dan sengsara.
Pemimpin yang beriman dan bertaqwa pasti takut melawan ketentuan Allah Subhanahu Wata’ala.
“Bagaimana mungkin pemimpin kita berani melarang sesuatu yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala? Bagaimana mereka nanti berhadapan dengan Allah di Hari Akhirat? Apa yang akan dikatakan para pemimpin kita itu kepada Allah di Akhirat Nanti? Bagaimana mereka berani melarang muslimah menutup aurat, sedangkan Allah justru memerintahkan?” kata DR. Adian dalam khutbah yang dihadiri sekitar 2.000 orang jamaah itu.
Adian yang juga Wakil Ketua Majelis intelektial dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) juga mengingatkan kewajiban rakyat kepada pemimpin adalah memberikan nasehat dengan cara yang baik dan juga mendoakan mereka.
“Jangan mencaci-maki pemimpin kita. Nabi Musa dan Nabi Harun pun diperintahkan Allah untuk menyampaikan kata-kata yang lembut dan santun kepada Fir’aun. Para pemimpin kita ini muslim, mereka bukan Firaun; semoga dibukakan pintu hati mereka, agar menegakkan iman dan taqwa di negeri kita, agar akut kepada Allah, sehingga kita semua mendapatkan berkah Alah,” tambahnya.
Selanjutnya, diingatkan kepada jamaah Jumat, agar jangan mencontoh perilaku Iblis, yang hanya mengakui keberadaan Allah, tetapi enggan diatur oleh Allah SWT. “Jangan sampai bangsa kita hanya mengakui keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, tetapi menolak untuk diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa itu,” kata Ustad Adian.
Namun, Adian juga mengajak jamaah untuk mengingatkan para ulama juga, sambil mengutip kata-kata Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya’ Ulumiddin: “Sesungguhnya, kerusakan rakyat disebabkan oleh kerusakan para penguasanya, dan kerusakan penguasa disebabkan oleh kerusakan ulama, dan kerusakan ulama disebabkan oleh cinta harta dan kedudukan; dan barang siapa dikuasai oleh ambisi duniawi ia tidak akan mampu mengurus rakyat kecil, apalagi penguasanya. Allah-lah tempat meminta segala persoalan.”
Terakhir, ia mengajak jamaah, agar mendoakan, siapa pun peimpin yang terpilih nanti, adalah pemimpin yang menjadikan iman dan taqwa sebagai landasan bagi kehidupan pribadi, keluarga, dan berusaha menjadikannya juga asas dalam berbangsa dan bernegara.*