Hidayatullah.com– Penggagas Global Village Dr Romeo Rissal menyayangkan pemerintah yang belum terlalu memperhatikan pendidikan di pesantren. Padahal pesantren memiliki potensi yang luar biasa. Salah satu dampaknya, sekolah di pesantren hingga saat ini dinilainya masih dikelola dengan seadanya.
“Membiarkan kualitas pendidikan seadanya lebih berbahaya daripada membiarkan korupsi di suatu negara,” ujarnya, saat mengisi acara Curah Gagasan Konsep Pendidikan Berbasis Kebutuhan Global Menuju Indonesia Memimpin di Kalimulya, Depok, Jawa Barat, Rabu (25/6/2014) pagi.
Pada acara yang digelar Baitul Maal Hidayatullah (BMH) itu, Romeo mengatakan, dia sudah sering mengunjungi berbagai pondok pesantren se-Indonesia. Kesimpulannya, pesantren tersebut luar biasa tapi realitasnya masih biasa-biasa saja.
“Kita ada sekitar 28 ribu pesantren di Indonesia,” ujarnya sebagai pemateri pertama pada acara yang digelar di Aula Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah (STIEHID) itu.
Menurut Romeo, ada beberapa problem utama yang dihadapi pesantren. Di antaranya soal kesejahteraan para guru, kualitasnya, dan lulusannya.
“Banyak sekali pesantren yang (gaji) ustadz-ustadznya dibawah UMR, banyak sekali. Ini kita bicara kesejahteraan. Belum lagi kualitas dan output-nya,” ungkapnya.
Dia pun mengkritik pemerintah yang sebetulnya, kata dia, “Sangat aneh kalau pemerintah kasih uang ke pesantren sangat kecil dibanding ke sekolah umum.”
Romeo pun tak luput mengkritisi pesantren-pesantren moderen. Dia melihat, rata-rata pesantren disebut moderen ketika sudah memasukkan mata pelajaran seperti fisika, kimia, dan sebagainya.
“Itu (sudah) benar,” akunya.
Namun, lanjutnya, dalam konteks sekolah kepemimpinan, semestinya pesantren lebih menekankan pembangunan sikap kepemimpinan pada tiap anak didiknya.
Pemimpin bukan Penghafal
Romeo tidak setuju ketika sebuah lembaga kepemimpinan justru mengedepankan teori tipe-tipe kepemimpinan yang bermacam-macam. Menurutnya, pemimpin tidak menghafalkan teori.
Lebih baik, sarannya, sekolah kepemimpinan menanamkan jiwa kepemimpinan pada diri muridnya sejak dini. Seperti membangun sikap disiplin, kompetisi, semangat, kemampuan, dan membangun hubungan sosialnya dengan bagus.
“Harus dimulai dari anak-anak yang ada di Hidayatullah ini, dari kecilnya. Dasarnya adalah di dalam diri orang itu sendiri,” ujarnya.
Sedangkan menghafal teori-teori kepemimpinan, menurutnya, tidak bisa membuat seseorang jadi pemimpin.
Acara curah gagasan ini digelar selama sehari, sejak sekitar pukul 08.00-15.00 WIB, dihadiri para pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, termasuk kalangan pendidikan.
Sejumlah tokoh diagendakan menjadi pemateri, di antaranya Prof Dr Imam Suprayogo (UIN Malang), Nizma Agustjik (aktivis kemanusiaan di London), Rusmanto (Ketua Asosiasi Open Source Indonesia), Dr Abdul Mannan (Ketua Umum PP Hidayatullah), dan Abraham Samad (Ketua Komisi Pemberantasa Korupsi).*