Hidayatullah.com–Heboh spanduk kontroversial bertuliskan “Tuhan Membusuk” dalam kegiatan Orientasi Akademik dan Cinta Almamater (OSCAAR) Senat Mahasiswa (SEMA) Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) membuat Dekan Fakultas Ushuluddin UINSA Dr. Muhid, M.Ag angkat bicara. Dia bahkan menampik jika kampusnya dianggap mengajarkan paham liberal.
“Sebenarnya tidaklah sejauh itu. Kita mengkaji agama itu basic-nya tetap Islam. Kita mempelajari agama orang lain itu juga atas dasar agama kita (Islam, red). Jadi bukan berarti kita menyetarakan dengan agama lain sama dengan agama kita,” ujarnya pada hidayatullah.com. [baca wawancara lengkap: Dekan Ushuluddin UIN Sunan Ampel: “Namanya Anak-anak belum Dewasa”]
Menurutnya, tema acara ospek yang belakangan secara cepat menjadi bahasan di jejaring media sosial juga membuat pihaknya kaget.
“Jangankan panjenengan (Anda), saya sendiri juga kaget. Karena memang hal itu sebelumnya tidak dikonsultasikan dengan pimpinan,” ujarnya kepada hidayatullah.com. Ahad (31/08/2014) malam.
Ia sendiri sempat memanggil panitia untuk menjelaskan soal dibalik penulisan banner “Tuhan Membusuk” .
Dekan Fakultas Ushuluddin Dr. Muhid, M.Ag mengaku telah memanggil semua panitiaa acara. Dari penjelasan pihak panitia, ia menyadari ada kesalahan persepsi antara gagasan besar yang dijadikan tema dan berdampak pada kontroversi di masyarakat.
“Anak-anak memahaminya bahwa apa yang terjadi selama ini bahwa nilai-nilai ketuhanan selama ini telah lepas dari masing-masing orang, itu diekspresikan panitia menjadi sebuah tema besar. Namun redaksi (tulisan dalam spanduk, red) yang berbeda,” ujarnya pada hidayatullah.com, Ahad malam.
“Temanya bagus, ‘Konstruksi Fundamentalisme menuju Islam Kosmopolitan’. Tapi masalahnya, ada tulisan besar di atanya ‘Tuhan Membusuk’. Itu yang jadi masalah.”
Menurutnya, apa dimaksud itu bagus tapi ekspresi bahasa tulis (tulisan di spanduk, red) justru kebalikannya.
“Namanya anak-anak belum dewasa, seolah apa yang mereka pikirkan tidak mengganggu orang lain.”
Haram penyematan sifat buruk Allah
Sementara itu, Sekretaris Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Jawa Timur Bahrul Ulum mengatakan kasus ini bukan hal sepele dan tak bisa dianggap karena masalah anak-anak semata. Sebab nampak ada kekeliruan mendasar dalam berpikir.
Menurutnya, menyematkan istilah-istilah buruh untuk Allah hukumnya haram. Ia mengutip Surat An-Nahl:60 tentang sifat-sifat Allah yang menunjukkan makna yang paling indah dan sempurna.
“Jika mereka mengaku hal itu hanya ungkapan atau istilah yang bersifat majaz, berarti mereka tidak paham kapan istilah atau kalimat itu digunakan, “ ujarnya.
Ia mengutip Imam Al-Qurthuby yang menjelaskan bahwa hak sebuah kalimat adalah dipahami sebagai hakikat hingga umat sepakat bahwa yang dimaksud adalah majaz.
Sedang kata ‘membusuk” sudah jelas menunjukkan makna hakekat yang sudah dipahami oleh semua orang, yang maksudnya jelas itu buruk. Menurutnya, bahkan anak-anak TK sudah paham.
“Apakah seperti itu kualitas mahasiswa Ushuluddin yang sesunggguhnya? Bukankan hal ini sudah dijelaskan oleh para ulama?” ujarnya.*