Hidayatullah.com–Menyikapi fenomena Daulah Islamiyah Iraq wa Syam (DAIS/ISIS/ISIL) atau masalah khilafah tidak bisa hanya mengedepankan heroisme semata. Namun perlu ilmu dan iman.
Jangan hanya karena mengusung kata “khilafah”, semangat berkobar, lantas begitu saja bergabung.
Perlu dengan ilmu dan iman. Meneliti kebenarannya sampai pada sumber aslinya, menjadi metode yang perlu dilakukan umat Islam sebelum menyatakan diri bergabung atau bahkan menolak, “ ujar dosen Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia, Dr. Abdul Muta’ali pada Forum Dialog “Khilafah Mungkinkah? Syam dan Akhir Zaman” di Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta, belum lama ini.
Dalam acara yang selenggarakan oleh Bidang Kajian Youth Islamic Study Club (YISC) Al Azhar ini, Abdul Muta’ali menambahkan, metamorfosis ISIS yang berasal dari ISI, perlu juga diketahui.
Sesuai sejarahnya, asal muasalnya adalah ISI, Islamic State of Iraq. Kemudian ditambahkan Suriah setelah kata Iraq dibawah kepemimpinan Abu Umar Al Baghdadi.
Sementara itu, kepanjangan ISIS sendiri berimplikasi pada perjuangannya yang bersifat kewilayahan. ISIS ini awalnya didirikan untuk melawan milisi Syiah di Suriah yang membantu rezim Bashar.
“Perbedaan itu bukan hanya perbedaan terminlogi tapi juga ideologi. Ketika disebut Suriah, perjuangannya teritori sebagai kontra atas keberadaan orang Syiah,”jelasnya.
Namun arah perjuangan kemudian berbalik ketika menjadi ISIS (Islamic State of Iraq and Syam) dibawah “kekhalifahan” Abu Bakar Al Baghdadi. Ketika menambahkan kata “Syam”, arah perjuangan bersifat idelogis. Perubahan kepanjangan itu mengakibatkan penegakkan khilafah yang ujungnya juga menyerang umat Ahlus Sunnah wal jamaah yang ada di wilayah Syam.
Umat Islam, tambah Abdul, tidak perlu bingung dalam menentukan sikap. Ketika penelitian cermat sudah dilakukan, akan semakin terang semua misteri tentang apa siapa ISIS.
Temuan UI
Di sisi lain, ada beberapa fakta menunjukkan ada indikasi pihak lain pada fenomena ISIS. Tim peneliti Kajian Timur Tengah Universitas Indonesia (UI) berhasil menemukannya saat meneliti langsung ke Iraq pada bulan Ramadhan 1435 lalu.
Fakta pertama, Abu Bakar Al Baghdadi, pimpinan ISIS merupakan nama baru yang tiba-tiba muncul ke hadapan Dewan Formatur setelah Syeikh Abu Umar Al Baghdadi wafat di tahun 2010.
Tapi setelah dilantik, Ia menghilang. Itu membuat masyarakat tidak sempat berdialog dan mengetahui pemikirannya.
Fakta kedua, Syeikh Aiman Az-Zhawahiri, Komandan ISIS saat ini, ternyata merupakan Amir Al Qaidah.
Fakta lain, ISIS juga menguasai ladang minyak di Utara dan Selatan.
“Selain itu, ISIS menguasai ladang minyak di Utara dan Selatan. Dia bisa mengangkat 16 Juta barel/hari. Indonesia saja sehari hanya memproduksi 800 ribu barel/hari,”ujarnya.
Abdul menduga ada campur tangan Amerika Serikat (AS) sehingga ISIS bisa memiliki cadangan minyak luar biasa.
Kepemilikan ISIS terhadap senjata F16 sebanyak 100 buah, menjadi fakta yang patut dipertimbangkan. Dari siapa ISIS mendapatkan senjata sebanyak itu. Padahal harga satu senjata saja bisa juta dollar.
“Karena itu tidak cukup hanya melihat pemberitaan di media tapi juga analisis keilmuan,”jelasnya.
Karena itu, tokoh muda NU ini juga menganjurkan untuk melihat segala persoalan keumatan tidak hanya dengan pancaindera.
“Melihat sesuatu pakai mata dan telinga, tidak salah. Tapi orientasi pancaindera seringkali salah,” tambahnya.*