Hidayatullah.com– Menteri Agama RI Lukman Hakim Syaifuddin mengatakan bahwa inti dari berpuasa adalah pengendalian diri, sebab musuh terbesar seseorang itu dirinya sendiri.
“Mestinya kita bisa mengendalikan diri kita sendiri sebab, lawan terbesar kita sesungguhnya diri kita sendiri, bukan siapa-siapa,” kata Lukman usai konferensi pers penetapan 1 Ramadhan 1436 Hijriyah di Auditorium H.M. Rasjidi Kantor Kemenag, Jalan Thamrin No. 6, Jakarta, Selasa (16/06/2015) malam.
Lukman menambahkan jika sejatinya Ramadhan itu dianugerahkan Allah Subhanahu Wa Ta’al sebagai medium bagi umat Islam yang beriman untuk mampu mengendalikan diri sendiri.
“Pengendalian diri itu terkait dengan meninggalkan hal-hal negatif karena dalam setiap hidup kita itu penuh dengan godaan, seperti perbuatan manipulatif, koruptif dan seterusnya.
Maka, lanjut Lukman, dengan berpuasa perbuatan negatif itu diharapkan bisa dikikis dan dihindari. Sehingga, kedepannya umat Islam mampu menjadi sebuah bangsa yang baik dan beradab.
Selain itu, Lukman mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang dikenal toleran dan sebagai negara yang penduduk muslimnya terbesar di dunia. Untuk itu, ia sangat berharap umat beragama Indonesia bisa saling menghormati satu sama lainnya dalam bulan suci Ramadhan ini.
“Jadi toleransi merupakan bagian yang harus kita bangun apalagi Indonesia itu merupakan negara yang dikenal toleran dan jumlah penduduk muslim tersbesar di dunia,” ujar Lukman.
Menurut Lukman sebagian masyarakat Indonesia pada bulan Ramadan juga banyak yang tidak berpuasa, karena agamanya memang tidak mewajibkan mereka berpuasa.
Selain itu, ada juga sebagian umat Islam yang tidak berpuasa karena sebab syar’i, seperti dalam perjalanan atau musafir, sakit, perempuan yang sedang menyusui dan sebagainya.
“Mereka adalah umat Islam yang memperoleh keringanan untuk tidak berpuasa. Maka, selain menghormati hak-hak yang berpuasa, hendaknya juga menghormati hak-hak mereka yang tidak berpuasa seperti itu,” kata Lukman.
Jadi, masih menurut Lukman sikap menghormati itu harus dibangun atas dasar kesadaran diri, dan bentuk dari menghormati itu harus murni, tulus serta ikhlas.
“Bentuk penghormatan harus murni, tulus,dan ikhlas. Karena itu bentuk-bentuk kekerasan harus dihindari saat Ramadhan,” pungkas Lukman.*