Hidayatullah.com– Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, M. Cholil Nafis, Ph.D menghimbau kepada umat Islam untuk melakukan amar ma’ruf dengan mauidhoh hasanah (memberikan nasehat dengan cara yang baik, red).
Pernyataan itu disampaikan menanggapi fenomena sholat tarawih tercepat sebanyak 20 rakaat dengan witir 3 rakaat yang selesai hanya dalam waktu 15 menit, yaitu di pesantren Mambaul Hikam, Mantenan, Udawanu, Blitar. [Baca: [Video] Soal Shalat Tarawih Tercepat di Dunia, MUI: Tidak Sah Tak Tuma’ninah]
“Di satu sisi, kita memang perlu amar ma’ruf untuk menyadarkan mereka supaya menjadi lebih baik lagi, tetapi dengan mauidhoh hasanah,” kata Cholil saat dihubungi hidayatullah.com, Jum’at (26/06/2015).
Selain itu, Cholil menambahkan, supaya umat Islam juga bisa saling menghargai satu sama lainnya. Apalagi, lanjutnya, saat ini umat Islam sedang menjalani bulan yang dianjurkan untuk lebih banyak menahan diri dari berbagai hal, yaitu bulan suci Ramadhan.
“Kita tidak perlu mencibir, menghina atau memaki mereka. Jangan sampai ada rasa benci kepada mereka yang dianggap atau dirasa kurang sesuai dengan tuntunan dalam mengerjakan sholatnya. Kita hargai mereka yang sudah punya niat baik mau menjelankan perintah Allah,” pungkas Cholil yang juga anggota Dewan Syariah Nasional.
Sebagaimana dikutip laman nu-online.com, pesantren Mambaul Hikam Mantenan, Udanawu, Blitar, telah menyelenggarakan shalat tarawih berjamaah sebanyak 20 rekaat dan witir 3 rekaat, dikerjakan dalam waktu 15 menit.
Durasi yang singkat ini menarik perhatian anak muda di sekitar pesantren untuk mengikuti shalat sunah pada malam puasa itu. Jumlah jamaahnya sangat fantastis, lebih dari 5000 orang, baik tua maupun muda setiap malamnya. Dari jumlah itu hampir 75 persennya adalah muda dan mudi. Mereka datang dari wilayah Kediri, Blitar, dan Tulungagung.
“Saya ini hanya mengikuti apa yang sudah dilakukan oleh para sesepuh. Kami tidak berani mengubahnya,” kata KH Diya’uddin Az-Zamzami, salah seorang pengasuh pesantren Mambaul Hikam kepada NU Online.
Menurut Diya’ yang juga anggota Jamiyah Ahlith thoriqoh Al-Mu’tabaroh Annahdliyah ( Jatman) itu, shalat secepat itu bisa dilakukan karena sang imam Tarawih hanya mengerjakan doa yang wajib-wajib misalnya niat, takbirotul ihram, baca Fatihah plus ayat pendek Al-Qur’an hingga salam.
“Doa ruku’, kita singkat cukup ‘Subhanallah. Lainnya hanya Allah-Allah saja.Tahiyat akhir juga hanya sampai bacaan shalawat untuk nabi Muhammad kemudian salam,” tandas Diya’ yang juga salah seorang Mursyid Thoriqoh Naqshobandiyah Kholidiyah.*