Hidayatullah.com — Warga masyarakat setempat yang berada di Desa Tobadak 7 dan Tobadak 8 atau di poros Saloadak-Sejati Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, menyesalkan merebaknya isu konflik bernuansa SARA di wilayah tersebut.
Warga setempat pun mendesak pemerintah dan pihak-pihak terkait untuk bersama-sama segera turut meredam konflik personal tersebut agar tidak semakin berkembang liar dan semakin bias.
“Tidak benar kalau ada kabar yang menyebutkan terjadi pembantaian massal. Jangan mudah membuat kabar dan jangan mudah percaya dengan kabar sebelum tabayyun dulu,” kata salah seorang tokoh masyarakat serempat, Mukri Saida, dalam obrolan dengan hidayatullah.com belum lama ini.
Hal senada juga ditekankan oleh kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Tobadak Fakhruddin. Kata Fakhruddin, ini murni masalah pribadi. Bukan konflik sentimen suku atau golongan.
Karena itu, Fakhruddin berharap sebaiknya jangan sampai ada pihak-pihak yang mencoba membuat isu sengaja mempropaganda masyarakat yang dapat saja menimbulkan konflik SARA.
“Dua hari paska pembunuhan itu sudah dilakukan perdamaian yang dimediasi pemerintah setempat, dihadiri pihak keamanan, tokoh masyarakat dari kedua belah pihak,” Fakhruddin kepada koresponden hidayatullah.com, Muhammad Bashori, di Mamuju Sulbar.
“Kesepekatan (damai) ini agar betul-betul dipegang teguh oleh kedua belah pihak,” tegasnya.
Pihaknya menegaskan agar tidak ada lagi ancaman-ancaman yang bisa memicu munculnya konflik.
Kasat Reskrim Polres Mamuju, AKP Aryo Dwi Wibowo juga menekankan hal yang sama dalam jumpa persnya Senin (5/10) lalu agar masyarakat tidak mudah terprovokasi dengan berita-berita liar. Apalagi setelah tertangkapnya EK (18) pelaku pembunuhan terhadap Salamuddin dan AG (23) pelaku pembacokan terhadap Matius Pandaulan yang sedang dirawat di rumah sakit Makassar.
Aryo membantah penganiayaan itu bersumber dari masalah antar suku. Berdasarkan pemeriksaan, diduga kuat masalah lahan sawit di Tobadak 8.
“Kami masih mendalami kasus ini. Jadi tidak benar ada isu SARA, bukan sengketa antara warga Timtim dengan Tator. Ini murni masalah pribadi,” tutup Aryo.
Atas peristiwa yang terjadi belum lama ini itu, warga sekitar melakukan aksi simpatik dengan melakukan kunjungan ke Tobadak 8 pada pada Jumat (9/10) dengan membawa bantuan logistik sekaligus sholat Jumat di desa tersebut.
Rombongan ummat muslim di Kabupaten Mamuju Tengah yang tergabung dari beberapa pesantren dan ormas Islam berkunjung dengan membawa bantuan berupa beras dan bahan makanan pokok lainnya ke Desa Tobadak 8.
Aksi simpatik kaum muslimin ini dilakukan hampir setiap hari paska terbunuhnya Salamuddin (54) oleh salah seorang warga kelompok tani di dusun Rawa Makmur, Sabtu (3/10) di jalan poros antara Tobadak 7 dan Tobadak 8.
Menyusul peristiwa nahas itu, sebagian besar warga Tobadak 8 yang mayoritas eksodus muslim Timor Leste itu memilih untuk tidak melakukan kegiatan keluar dari desa mereka dengan alasan keamanan.
Sebagaimana dikabarkan, terjadi aksi pembunuhan sadis yang dialami Salamuddin, 54 tahun, dekat perbatasan Desa Tobadak 7 dan Tobadak 8 atau di poros Saloadak-Sejati Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, Sabtu 3 Oktober lalu.
Salamuddin yang merupakan eksodus muslim akibat perang Timor Timur ini dihabisi oleh seorang pemuda dari suku Tana Toraja berinsial EK. Diketahui, daerah Tobadak 8 umumnya dihuni eksodus muslim asal Timor Leste.
Salamuddin adalah mantan kepala desa pertama Desa Tobadak 8 yang saat itu dipecaya warga untuk menyelesaikan masalah batas lahan dengan kelompok tani warga dusun Rawa Makmur.
Dari total delapan hektar lahan yang ia mediasi mendiang Salamuddin itu tidak satupun ada namanya dalam surat kepemilikan tanah, demikian penjelasan sumber terpercaya media ini di lokasi.*