Hidayatullah.com—Masa depan pendidikan di Indonesia dinilai mengkawatirkan. Bukan karena pendidikan mundur, tetapi mutu pendidikan yang lebih berorientasi pada tujuan keduniaan semata. Salah satunya adalah mulai lunturnya adab yang dimiliki oleh anak-anak.
Demikian diungkapkan cendekiawan Muslim, Dr.Adian Husaini dalam tausyiahnya di Masjid Al Mutaqien Komplek Kantor Gubernuran (Gedung Sate) Jawa Barat Jalan Diponegoro Kota Bandung, Selasa (17/11/2015).
Ia menyampaikan bahwa persoalan adab berkaitan erat dengan perdaban manusia itu sendiri bukan sekedar diukur dari kemajuan teknologi.
Ia pun menghimbau kepada para orang tua agar persoalan adab ini tidak cukup diserahkan kepada sekolah semata.
“Orang tua harus mendidik adab kepada anak-anaknya. Jangan sampai adab saja tidak tahu,”ujarnya di hadapan para muslimah.
Menurut Adian ruang lingkup adab bukan sekedar sopan santun namun lebih jauh dari itu yakni adab yang berbasis akidah.
Adab ini, sambungnya, mengakui dan menghargai harkat dan martabat sesuatu sesuai yang diperintahkan Allah Subhanahu Wata’ala. Ia mencontohkan dirinya sendiri yang ketika masih kecil orang tuanya telah mengajarkan adab kepada manusia melalui kitab “Adabul Insan” sebagai landasan membangun akhlak terpuji.
“Dalam ajaran Islam telah lengkap, adab dari sejak bangun tidur hingga adab menjelang tidur lagi semuanya diatur semua. Bisa kita pahami bahwa seluruh hidup dan kehidupan ini penuh dengan adab bahkan dalam sebuah hadis Rasulullah bersabda,“Aku telah didik adab oleh Tuhan ku, ” jelas Ketua Program Pascasarjanai UIKA Bogor ini.
Karena adab ini berbasis akidah maka menjadi sangat penting untuk menangkal paham-paham sesat atau aliran menyimpang yang mungkin merasuki pikiran atau pemahaman anak.
Ia kembali mencontohkan bagaimana orang tua mengajarkan adab kepada anaknya seperti kisah Luqmanul Hakim yang terekam dalam QS.Luqman ayat 13-14 yakni adab kepada Allah dengan tidak menyekutukan-Nya. Berikutnya baru mengajarkan adab kepada orang tuanya.
“Orang musyrik itu sangat biadab alias tidak punya adab, di mana mereka meletakkan Sang Khaliq dengan makhluk. Contohnya sangat jelas yakni mengangkat derajat manusia atau hamba (Nabi Isa) kepada derajat Allah yang kemudian dianggap sebagai Tuhan. Makanya Allah murka dengan tuduhan jika Allah punya anak. Menuduh Presiden punya istri lagi dan punya anak saja marahnya luar biasa apalagi ini menuduh Tuhan punya anak,”jelasnya.
Sementara menjawab pertanyaan jamaah tentang sikap orang-orang yang menyimpang seperti kelompok Syiah,dengan tegas Adian menjelaskan bahwa kaum Syiah sangat tidak beradab dengan hanya memuliakan sebagian keluarga rasul dan melaknat keluarga lainnya. Ia mengajak kaum muslimin untuk meletakkan Rasulullah Shallallhu ‘alaihi Wassallam sebagai manusia terbaiknya (mulia) berikut keluarganya. Ia sendiri tidak mengerti sikap kelompok Syiah yang tidak beradab atau hilang adabnya kepada Rasul dan para sahabatnya.
“Sahabat-sahabat Rasul dan istri-istri Rasul itu mulia. Rasul sendiri yang mualiakan bahkan mereka lebih mulia dari orang tua kita. Bagaimana mungkin orang yang mengaku beradab malah melaknat mereka,bahkan lebih tidak beradab lagi dengan menuduh Al Quran telah berkurang bahkan dipalsukan. Ini bukti adab kepada Allah sudah tidak punya,padahal Allah sendiri yang menjamin dan menjaga Al Quran,”terangnya.
Diakhir tausyiahnya,ia berpesan agar masalah adab ini jangan dianggap sepele dan sebatas sopan santum kepada sesama manusia.
Adian mengingatkan bahwa dalam beribadah sendiri ada adabnya yakni hanya untuk mendapat ridho Allah.
Ia mencontohkan syirik kecil bisa berujud beribadah namun ditujukan untuk makhluk,ingin mendapat pujian,jabatan dan keuntungan dunia lainnya. Menurutnya cirri demikian adalah hamba yang tidak beradab karena Allah yang memberi segalanya sementara ibdahnya untuk makhluk-Nya.*/Abu Luthfi Satrio