Hidayatullah.com– Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) menggelar Seminar “Pentingnya Pendirian Fakultas Kedokteran yang Islami” di ruang serbaguna UAI, Kebayoran Baru, Jakarta, Kamis, (10/12/2015).
Menurut Rektor UAI, Prof Dr Ir Sardy Sar, dalam pendirian fakultas kedokteran yang Islami, harus bersifat universal. Sehingga bisa dipelajari oleh siapa saja, serta manfaatnya dapat dirasakan semua orang.
“Selain itu, juga harus berkaitan pada ajaran-ajaran dan etika Islam dan juga harus riil, sehingga dapat diaplikasikan dengan baik”, ujar Profesor Sardy dalam rilis UAI kepada hidayatullah.com, Kamis itu.
Bagi UAI, tantangan dunia kedokteran dan masalah kesehatan ke depan semakin berat dan rumit. Olehnya, institusi pendidikan kedokteran perlu bekerja sama menghadapi tantangan itu.
Menurutnya, “Pendirian fakultas kedokteran yang Islami juga dapat menjadi salah satu jawaban dalam menghadapi tantangan ini.”
Dijelaskan, saat ini, jumlah universitas yang telah mendirikan fakultas kedokteran termasuk relatif sedikit. Inilah peluang yang sangat baik bagi dunia pendidikan.
“Peran Islam dalam dunia pendidikan dapat dijadikan oase di saat pertumbuhan dunia kedokteran modern yang makin rumit,” tambahnya.
Menurut UAI, kedokteran Islam didefinisikan sebagai ilmu pengobatan yang model dasar, konsep, nilai, dan berbagai prosedurnya sesuai dan tidak berlawanan dengan al-Qur’an dan as-Sunnah.
“Untuk itu, ilmu kedokteran Islam itu universal, mencakup semua aspek, fleksibel, dan mengizinkan pertumbuhan serta perkembangan berbagai metode pengobatan penyakit,” demikian tertulis.
Disebutkan, seminar ini dihadiri oleh Menteri Kesehatan pada Kabinet Reformasi Pembangunan era Presiden BJ Habibie, Prof Dr dr Faried Anfasa Moeloek, yang juga Independent Commisioner Kalbe Indonesia.
Selain itu, turut serta Ketua Umum Pengurus YARSI Prof Dr Jurnalis Uddin dan Rektor Universitas Indonesia periode 1994-1998, yang juga Dekan Pertama FKIK UIN Jakarta, Prof Dr dr MK Tadjudin.*