Hidayatullah.com– Anggota Majelis Pustaka dan Informasi Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Edy Kuscahyanto, menilai, makin hari tayangan di televisi kian tidak memberikan ruang publik kepada anak-anak.
Akibatnya, perhatian terhadap perkembangan dan pendidikan anak-anak menjadi terabaikan dalam program-program yang disiarkan.
Menurut Edy, persoalan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Sebab menyangkut masa depan generasi penerus Bangsa.
“Bisa dikata, teknologi saat ini jauh dari nilai-nilai pendidikan,” ucap Edy dalam acara Seminar Publik “Perlindungan Anak Dalam Regulasi Penyiaran” di Auditorium Ahmad Dahlan Gedung Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Jakarta, baru-baru ini (04/02/2016).
Semestinya, menurut Edy, TV dan seluruh media siaran lainnya bisa menjadi alat edukasi yang efektif, terutama dalam mendidik sekaligus memberi ruang publik yang sehat kepada anak-anak.
Dikatakan Edy, bersama ormas dan lembaga lainnya, Muhammadiyah saat ini sedang berjuang menegakkan jihad konstitusi, khususnya yang menyangkut aspek pendidikan dan kepentingan publik lainnya.
“Menurut temuan kami, setidaknya ada 115 UU yang belum sesuai dengan amanah Pembukaan Dasar UUD 1945. Inilah yang sedang kami perjuangkan saat ini, termasuk masalah perlindungan anak dari siaran yang tidak mendidik,” papar Edy menjelaskan.
Ibarat Senjata Makan Tuan
Hal sama diungkap oleh Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Maria Ulfah Anshor, yang memandang perlunya kanal khusus menjembatani persoalan tersebut.
Maria melihat tayangan selama ini adegan tidak lebih dari kekerasan, entertainment (hiburan orang dewasa), atau acara mistik. [Baca: Gosip dan Mistik Rating Tertinggi, TV Ancaman Nyata bagi Anak]
“Anak-anak harus diberi ruang publik khusus, sebab tayangan hari ini tidak punya nilai pendidikan sama sekali terhadap mereka,” ungkapnya.
Menurut Maria, keberpihakan siaran TV terhadap pendidikan dan anak-anak, penting buat masyarakat. Sebab terkadang meski yang ditayangkan itu sekolah-sekolah atau kampus, tapi isi siaran tersebut jauh dari nilai-nilai pendidikan.
“Lihat saja sinetron-sinetron yang ada. Siswanya tampak memakai seragam sekolah tapi yang ditonjolkan justru adegan pacaran di sekolah atau siswa mengerjai gurunya,” terang Maria mencontohkan.
Ibarat senjata makan tuan, tayangan-tayangan tersebut melahirkan citra yang tidak baik terhadap dunia pendidikan, di saat para siswa justru mendapat tontonan yang tidak mendidik.
“Padahal semestinya TV nasional itu berfungsi sebagai alat edukasi pemerintah. Bukan justru sebaliknya, menghancurkan generasi bangsa,” ucap Maria berharap.*/ Masykur