Hidayatullah.com– Membangun ukhuwah Islamiyah antar sesama ormas Islam dinilai masih menjadi pekerjaan rumah umat di Indonesia. Karena itu, perlu adanya perbaikan dalam menjalin hubungan, cara pandang, dan sikap antar kelompok.
Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (Waka Wantim MUI), Didin Hafidhuddin menjelaskan, ada beberapa hal yang mesti dilakukan oleh ormas Islam dalam rangka memperkuat ikatan ukhuwah Islamiyah.
Pertama, menurutnya, seorang Muslim harus memandang sesama Muslim sebagai saudara, dan memperlakukan saudara seiman itu dengan lembut serta berkasih sayang.
“Bukan dengan rasa benci, antipati dan sebagainya. Walaupun kita berbeda organisasi,” ujarnya dalam seminar nasional bertema ‘Penyusunan Panduan Ukhuwah Islamiyah’ di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin (25/04/2016).
Selanjutnya, papar Didin, setiap Muslim harus mengembangkan persaudaraan dengan saling membantu, melindungi, berkoordinasi, dan bersinergi.
“Semangat ukhuwah ini memang harus terus dibangun, dimulai dengan saling taaruf, tafahum, dan taawun itulah agenda kita bersama,” jelasnya.
Hal itu, kata dia, akan terjadi ketika seluruhnya berpegang teguh kepada agama Allah dan atas dasar keimanan.
“Tidak mungkin Allah akan menyatukan hati kita kalau kita tidak berusaha untuk melaksanakan perintah-Nya,” tegas mantan Ketua Baznas ini.
Ketiga, sambungnya, setiap Muslim harus mengutamakan kehidupan berjamaah yang dapat mendayagunakan organisasi sebagai alat dakwah, bukan tujuan.
“Organisasi itu sebagai alat. Salah kalau kita menjadikan organisasi sebagai tujuan, ketika organisasi kita jadikan tujuan maka akan banyak pertentangan,” tuturnya.
Keempat, sambungnya, setiap organisasi harus memandang organisasi lain sebagai mitra perjuangan. Karena, menurut Didin, yang mesti dikembangkan adalah budaya kerja sama dan berlomba meraih kebaikan, bukan budaya pertentangan dan persaingan.
Utamakan Kepentingan Bersama
Poin berikutnya, lanjut Guru Besar IPB ini, dalam kehidupan politik setiap organisasi Islam harus mengedepankan kepentingan bersama umat Islam, dan meletakkannya di atas kepentingan organisasi.
Terakhir, terangnya, setiap amal dan prestasi dari ormas Islam harus dipandang sebagai karya prestasi umat Islam secara keseluruhan.
“Ketika NU berhasil membangun pesantren yang hebat, atau ketika Muhammadiyah yang mempunyai rumah sakit dan perguruan tinggi berkualifikasi internasional, misalnya, itu harus dianggap sebagai prestasi kaum Muslimin secara keseluruhan,” pungkas Didin.*