Hidayatullah.com– Di usia 71 tahun kemerdekaannya, Indonesia dinilai oleh Syarikat Islam Indonesia (SII) masih tertindas. Rakyat pun perlu mencari jalan keluar dari situasi tersebut.
SII, melalui acara Silaturahim dan Puncak Peringatan 100 Tahun Zelfbestuur National Congres Central Sarekat Islam, menawarkan jalan keluar. Yaitu, sesuai tema acara tersebut, “Hijrah Untuk Negeri”.
“Hijrah yang dimaksud adalah hijrah dari demokrasi liberal menjadi syuro. Sebab demokrasi liberal meluluhlantakkan suara umat Islam untuk menentukan pemimpin yang amanah,” ujar Muflich Chalif Ibrahim, Presiden LT SII, belum lama ini.
Acara tersebut berlangsung di GOR C-Tra, Kota Bandung, Jawa Barat. Diikuti ribuan kader dan simpatisan SII se-Indonesia, Ahad, 11 Dzulqa’dah 1437 H (14/08/2016) lalu.
Hijrah kedua, jelas Muflich, adalah hijrah ekonomi, dimana umat Islam menjadi mayoritas pemimpin gerakan ekonomi yang berbasis kerakyatan.
“Yang ketiga adalah yang terpenting, yaitu hijrah kebudayaan dengan pendidikan berlandaskan tauhid sebagai kata kunci,” tegas Muflich melalui siaran persnya hidayatullah.com. [Baca juga: SII: 71 Tahun Merdeka, Indonesia Masih Tertindas]
100 Tahun Zelfbestuur
Dijelaskan, acara tersebut dalam rangka memperingati 100 Tahun Zelfbestuur. Acara ini dihadiri beberapa tokoh nasional seperti Ketua DPR RI Ade Komarudin, sejarawan Dr Aji Dedi Mulawarman, dan para tokoh masyarakat.
SII mengungkap sejarah Zelfbestuur. Pada tanggal 18 Juni 1916, di hadapan puluhan ribu peserta Rapat Akbar (Vergadering) yang memadati lapangan alun-alun Kota Bandung, Haji Omar Said (HOS) Tjokroaminoto mengumandangkan “Zelfbestuur (pemerintahan sendiri)”.
Hari itu merupakan acara hari kedua dari perhelatan akbar, agenda Voordracht dari HOS Tjokroaminoto, Voorsitter, Ketua CSI, Sang Raja Tanpa Mahkota, atau oleh Belanda disebut “De Ongekroonde Koning van Java” (Raja Jawa yang Tak Dinobatkan).
Perhelatan itu rangkaian dari 8 hari Kongres Nasional Pertama Central Sarekat Islam atau disebut 1e Nationaal Congres Centraal Sarekat Islam, 17-24 Juni 1916.
HOS Tjokroaminoto, salah satu tokoh nasional muda saat itu yang berani mengumandangkan kata magis “Kebangsaan (Natie)” dan “Zelfbestuur (pemerintahan sendiri)”, sebagai kata lain dari Kemerdekaan Nasional, pertama kali di hadapan publik.*