Hidayatullah.com –Penggagas Sirah Community Indonesia (SCI) Asep Sobari mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam paling cerdas mengelola perang opini.
Bahkan sejak zaman dahulu, khususnya pada ketika masa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, menjadikan perang opini menjadi suatu yang amat berpengaruh dan penting.
Pada saat itu, Asep menjelaskan, perang opini antara umat Islam dan Kau Kafir Quraisy tersebar melalui syair-syair dalam bentuk puisi dan semisalnya.
“Zaman dulu di Jazirah Arab sangat suka sekali dengan syair, termasuk kecerdasan seseorang bisa dilihat dari syairnya,” ujarnya di hadapan karyawan Kelompok Media Hidayatullah (KMH) di Jakarta, Selasa (06/12/2016).
Lebih dari itu, terang Asep, puisi sebagai media opini bisa membuat satu kabilah terhormat atau seorang penguasa menjadi jatuh.
“Bahkan satu bait puisi bisa lebih ditakuti ketimbang hujan anak panah. Saking pentingnya perang opini,” ungkapnya.
“Makanya penyair termasuk kalangan yang dicukupi kehidupannya,” tambah Asep.
Peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) ini menyebut, beberapa penyair yang cukup berpengaruh waktu itu seperti Kaab bin Malik, Hasan bin Tsabit, dan Abdullah bin Rawahah.
“Hasan bin Tsabit itu puisinya jika sudah sampai Makkah bisa membuat orang terenyuh. Kalau Abdullah bin Rawahah puisinya lebih sering ke internal kaum muslimin karena sangat menggugah,” jelasnya.
Asep menjelaskan, penyebaran opini tersebut menyebar melalui jalur dagang. Melalui mulut ke mulut.
Ia mengatakan, dalam penyebarannya tidak bisa satu bait puisi saja berubah isinya, karena pasti akan diketahui oleh masyarakat pada umumnya.
“Orang akan bilang, tidak mungkin puisinya Si Fulan seperti ini. Beda dengan Medsos jaman sekarang,” tutur Asep.
Begitu pentingnya perang opini, Asep juga mencontohkan, bahwa Perang Badar meski hanya berlangsung satu hari, tapi opininya berkembang hingga satu tahun sampai tiba Perang Uhud.
“Perang Uhud itu satu hari, tapi opininya 2 tahun,” tandasnya. Karena itu seharusnya umat Islam paham masalah ini.*