Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Haedar Nashir: Saatnya Berhenti Mengkonstruksi Kegawatan Indonesia

Muhammad Abdus Syakur
Terakhir diupdate: 8 Mei 2017 15:07 3:07 pm
Muhammad Abdus Syakur
Dipublikasikan 8 Mei 2017 13:57
Bagikan
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir (kanan) bersama jajarannya jumpa pers usai pertemuan dengan Presiden Jokowi di Pusat Dakwah PP Muhammadiyah di Jakarta, Selasa (08/11/2016).
Bagikan

Hidayatullah.com– Akhir-akhir ini usai Pilkada DKI Jakarta yang dinilai berjalan demokratis dan damai, masih juga dikembangkan pikiran atau pendapat-pendapat yang terasa gawat atau digawat-gawatkan.

Yaitu, menurut Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah, kemenangan pasangan Gubernur-Wakil Gubernur DKI Anies Baswedan-Sandiaga Uno yang dianggap merebaknya radikalisme agama, intoleransi, dan ancaman terhadap kebhinnekaan.

Malah, imbuhnya, kemenangan itu dianggap mekarnya politik primordialisme atau SARA yakni suku, agama, ras, dan antargolongan.

Hal senada, dalam bentuk lain, katanya, pasangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot) yang kalah secara demokratis dan keduanya sebenarnya sudah mengucapkan selamat kepada pemenang, digambarkan mewakili kebhinnekaan, toleransi, moderat, dan rasionalitas.

Maka ketika pasangan ini kalah, imbuhnya, lalu muncul pandangan alarm atas keindonesiaan.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Baca: Adian Husaini: Di Luar Prediksi, Kemenangan Anies-Sandi Pertolongan Allah

Selain itu, kata Haedar, bahkan ada yang berpandangan adanya ancaman terhadap NKRI, karena ada gerakan kelompok Islam radikal maka dimungkinkan akan muncul reaksi balik dari kawasan Papua, NTT, dan lainnya.

Lalu dimunculkan istilah kawan setia dan paling mendukung NKRI. Sebaliknya, imbuhnya, tentu saja ada yang dianggap kurang atau tidak setia, serta tidak pro-NKRI.

“Pikiran dan pandangan yang mengesankan situasi gawat  seperti itu justru dapat berpotensi menciptakan psikologi kegawatan dalam berbangsa dan bernegara saat ini,” ujarnya dalam pernyataan tertulisnya diterima hidayatullah.com Jakarta, Senin (08/05/2017).

Haedar mengatakan, jika pendapat-pendapat negatif seperti itu terus diproduksi, boleh jadi malah akan terjadi saling berhadapan atau dihadap-hadapkan antar dua pihak warga bangsa yang berbeda.

Misalnya mayoritas versus minoritas, pemeluk agama satu dengan peneluk agama lain, antara satu etnik dengan etnik lain, dan antara kelompok radikal satu dengan radikal lain.

“Mau sampai kapan?” ungkap Haedar mempertanyakan.

Disadari, imbuhnya, terdapat sejumlah masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Termasuk masalah hubungan antar kelompok agama, etnik, kedaerahan, dan golongan dalam kehidupan bangsa Indonesia yang majemuk.

Ketika ada titik pemicu kadang muncul gesekan. Ditambah dengan kontestasi politik, biasanya memunculkan gesekan kepentingan antarkelompok yang bertensi tinggi. Faktor agama juga sering bersenyawa dalam konflik kepentingan itu, tambahnya.

Namun, lanjutnya, jika berpikir lebih jernih dan objektif, permasalahan yang berkembang masih bisa diatasi dan terus didialogkan untuk dicarikan solusi.

Pilkada DKI memang ada masalah yang berkaitan dengan relasi politik dengan sentimen agama dan etnik, tetapi faktornya tidak determinan dan satu-satunya. “Masalah lain ikut memicu seperti faktor personalitas, kesenjangan sosial, dan lain-lain,” ujarnya.

Baca: Rekonsiliasi Pasca Pilkada, Fadli Zon: Proses Kebijakan dan Hukum Paling Penting

Karenanya, ia mengatakan, setiap ada peristiwa kajilah secara seksama dan komprehensif agar tidak linier dan melahirkan pandangan dangkal. Lalu di sana terjadi politisasi dalam beragam bentuk, termasuk dramatisasi situasi.

“Dramatisasi itulah yang sering memicu masalah baru dan memperluas masalah, yang menimbulkan kepanikan maupun kesan suasana gawat, yang tidak sepenuhnya menggambarkan keadaan yang faktual atau apa adanya,” sebutnya.

Maka, ia mengimbau, hendaknya perlu dihentikan pikiran-pikiran yang cenderung menggawatkan atau mendramatisasi keadaan disertai pandangan yang ekstrem, provokatif, dan berlebihan.

Kembalilah ke pandangan yang moderat, objektif, dan mengirim pesan damai serta positif. Masalah yang dihadapi dapat dikaji secara seksama dan dicarikan solusi bersama dalam suasana yang lebih normal, kata dia.

Baca: Pengamat Hukum: Lantaran Seorang Ahok, Satu Negara Gaduh

Menurut Haedar, bangsa Indonesia telah melewati banyak rintangan dan masalah besar, sehingga memiliki modal sosial yang relatif mencukupi untuk melewati masalah-masalah baru.

“Masalah harus dihadapi, tetapi jangan termakan situasi. Jangan sebarkan virus kecemasan dan kewaspadaan yang berlebihan, yang menciptakan psikologi kegawatan melebihi kemestian,” pesannya.

“Di sinilah pentingnya kedewasaan, kearifan, kejujuran, dan kecerdasan para pemimpin negeri!” tegasnya memungkas.*

Redaktur: Muhammad Abdus Syakur
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Ahok-DjarotAhok-Djarot kalahAnies Baswedan-Sandiaga UnoAnies-SandiAnies-Sandi menangBangsa IndonesiaBasuki Tjahaja Purnama - Djarot Saiful HidayatGubernur-Wakil Gubernur DKI Jakartahaedar NashirIslam radikalJokowi-JKkebhinnekaanKetua Umum PP MuhammadiyahmoderatNKRIpemikiran Haedar Nashirpemimpin IndonesiarasionalitasSARATokoh Muhammadiyahtoleransi
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Talaqqi Hadits Hingga di Penjara
Tulisan selanjutnya Penerimaan Atas Putusan Hakim terhadap Perkara Ahok

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

MUI: Fatwa Hukuman Mati bagi Koruptor Sudah Ada Sejak 2005, Tinggal Menjadi Hukum Positif

Berita
14 Juli 2026 15:30
Matinya Lindsey Graham, Senator AS Paling Vokal Bela ‘Israel’
Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
Pengangguran di China Lahirkan Industri Baru: Kantor untuk “Pura-pura Bekerja”
Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak

Terbaru

  • Uni Eropa Larang Impor Emas Sudan untuk Memutus Pendanaan Perang
  • Negeri Kincir Angin Resmi Berstatus Kekurangan Air
  • Bertubi-tubi Diserang Amerika, Iran Minta Rakyatnya Hemat Listrik
  • China Bantah Tuduhan Trump Beijing Mengusik Proses Pemilu Amerika Serikat
  • Serangan Iran Merusak Pembangkit Listrik dan Fasilitas Desalinasi Air Kuwait
  • Sumber Militer Suriah Bantah Iran Membom Pangkalan Al-Tanf
  • Permohonan Legalisasi Ganja untuk Keperluan Relijius oleh Komunitas Rastafarian Ditolak Pengadilan Kenya
  • Minum Obat Penggugur Kandungan Wanita Indonesia Dihukum 5 Tahun Penjara di Sarawak
  • Seribu QRIS Personal Sudah Disebar, DPP Hidayatullah Siap Masifkan Gerakan Subuh Bersedekah
  • Hidayatullah Luncurkan Aplikasi Gerakan Sedekah Subuh, Perkuat Ekosistem Filantropi Islam Berbasis Digital

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?