Hidayatullah.com– Memaparkan penelitiannya terhadap penjajahan Israel atas Palestina, Peneliti Amnesty International, Ms Lina menyatakan, pihaknya memiliki pendirian yang sangat prinsipil.
“Yaitu Amnesty International menggunakan pendekatan Hak Asasi Manusia (HAM),” katanya saat hadir dalam Dialog Lintas Agama dan Deklarasi untuk Palestina di Gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Jakarta Pusat, Jumat (03/11/2017).
Baca: Organisasi Lintas Agama Kecam 50 Tahun Israel Duduki Palestina
Sebab, menurutnya, HAM merupakan warisan dan juga prinsip yang berlaku dari kepercayaan apapun.
Oleh sebab itu, maka Amnesty International mengaku tidak berkutat pada pendirian politik atas masalah di Palestina.
Dengan pendekatan HAM, menurut Lina, siapa pun bisa memberikan dukungan terhadap Palestina. “Entah ia Yahudi, Buddha, Islam, atau Kristen,” ujarnya. Dan diharapkan bisa tercapai keadilan terhadap apa yang terjadi di Palestina.
Ia berharap agar dialog organisasi lintas agama itu akan menumbuhkan kesepahaman bagi seluruh pemimpin dan pemuka agama untuk mendukung upaya kasus pelanggaran HAM.
“Dan mendukung situasi masyarakat Palestina dengan ritme yang harmonis,” pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan hidayatullah.com, mendorong kemerdekaan Palestina bukan semata-mata berangkat dari kewajiban kemanusiaan, tetapi lebih dari itu adalah kewajiban agama.
Demikian ditegaskan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dalam sambutannya pada hari pertama Konferensi Internasional untuk Pembebasan al-Quds dan Palestina di Hotel Savoy Homann, Bandung, Jawa Barat (04/07/2012).
“(Semangat membebaskan Palestina) lebih karena kewajiban iman, kewajiban aqidah, kewajiban kepada Allah Subhanahu Wata’ala,” ujarnya.
Heryawan tak menampik jika kemerdekaan Palestina merupakan isu global, dan menjadi perhatian dunia dalam perwujudan hak asasi manusia dan bangsa seutuhnya.* Ali Muhtadin