Hidayatullah.com– Menurut anggota Komisi IV DPR RI Hermanto, ancaman krisis pangan sudah semakin dekat. Tanda-tandanya sudah tampak.
“Indikatornya ada tiga. Semakin sempitnya lahan, semakin sulitnya mencari lahan baru untuk tanaman pangan, dan semakin tidak terkendalinya pertumbuhan penduduk,” papar Hermanto dalam sambutannya pada acara Launching Kawasan Perbenihan dan Bioindustri Bawang Merah di Jorong Koto, Nagari Sei Nanam, Kecamatan Lembah Gumati, Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, Sabtu (11/11/2017) dalam siaran persnya kepada hidayatullah.com kemarin.
Menurutnya, krisis bisa dicegah atau setidaknya bisa dihambat lajunya dengan inovasi. “Inovasi di bidang sains dan teknologi sangat berperan dalam mencegah krisis,” ucapnya.
Teknologi terapan Instore Dryer yang ada di kawasan bawang merah ini, tambahnya, merupakan salah satu inovasi tersebut.
“Dengan Instore Dryer, proses pengeringan bisa berlangsung lebih cepat. Semula dibutuhkan waktu 20 hari. Kini dengan teknologi tersebut, hanya butuh 5 hari saja,” paparnya.
Kemajuan pertanian, lanjutnya, tergantung pada litbangnya. Litbangnya maju maka pertanian juga maju. Litbang harus didorong agar melakukan riset dan pengembangan sesuai kebutuhan sektor pertanian.
“Output-nya harus aplikatif. Berorientasi pada teknologi terapan,” ujar legislator FPKS dari dapil Sumatera Barat ini.
Hadir juga dalam kegiatan ini Bupati Solok Gusmal, ia meresmikan Kawasan Perbenihan dan Bioindustri Bawang Merah ini.
“Solok dicanangkan sebagai sumber bibit bawang merah untuk Pulau Sumatera,”ujar Bupati Gusmal dalam sambutannya.
Di Solok, lanjutnya, saat ini ada lahan bawang merah seluas 7.000 hektare.
“Solok diminta oleh Menteri Pertanian agar memiliki kawasan bawang merah seluas 10 ribu hektar. Target luasan tersebut semoga bisa dicapai pada tahun 2019,” paparnya.*