Hidayatullah.com–Pagi tadi, hidayatullah.com menemui Ketua Majelis Ulama Indonesia Sumatera Barat (MUI Sumbar), Gusrizal Gazahar, yang bertepatan sedang ada acara di Hotel Balairung, Matraman, Jakarta. Kami berbincang tentang perkembangan kasus pelarangan cadar di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi, Sumbar.
Gusrizal juga memberikan media ini sebuah surat maklumat dari Komisi Fatwa MUI Sumatera Barat tentang cadar. Surat itu baru ditandatangani kemarin.
MUI Sumatera Barat merasa sangat perlu menyampaikan maklumat ini. Sebagai respons menyikapi perkembangan terakhir terkait persoalan pelarangan cadar dan adanya indikasi pengaitan pemakaian cadar dengan radikalisme, eksklusivitas, dan lain sebagainya.
Baca: Soal Larangan Bercadar, Umat Islam Sumbar Tempuh Langkah Mediasi
Isi maklumatnya: pertama, bercadar bagi perempuan tidak wajib, tetapi dianjurkan (mustahabb) bila ada kepentingan (hajah) demi lebih menjaga iffah (kehormatan).
Kedua, MUI Sumatera Barat mengimbau seluruh pihak agar menghormati mereka yang menggunakan cadar.
Ketiga, MUI Sumatera Barat meminta pihak yang bercadar untuk tidak merasa lebih islami/shalihah dari yang tidak bercadar.
Dan yang keempat, “MUI Sumatera Barat menyatakan bahwa pelarangan penggunaan cadar bagi perempuan tidak memiliki alasan yang kuat baik menurut syari’at Islam maupun perundang-undangan yang berlaku, karena itu MUI Sumatera Barat meminta kepada pimpinan institusi terutama yang berlabel Islam agar tidak melarang bercadar dalam lingkungan institusi tersebut.” Demikian isi maklumat tersebut.* Andi
Baca: IAIN Bukittinggi Larang Dosen Hayati Bawa Surat Penonaktifan, Ada Apa?