Hidayatullah.com– Pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyebut per Maret 2018 tingkat kemiskinan menurun ke angka 9,82 %, dikritisi oleh peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara.
“Kemiskinan menurun semu,” kata Bhima kepada hidayatullah.com Jakarta, Selasa (17/07/2018).
Bhima mengungkap, faktor turunnya kemiskinan lebih karena adanya bantuan sosial tunai dari pemerintah naik 87,6% pada triwulan I tahun 2018. Selain itu, juga karena program beras sejahtera serta bantuan pangan non-tunai yang berhasil didistribusikan ke masyarakat seusai jadwal.
“Permasalahannya jika APBN dalam tekanan dan belanja sosial harus dirasionalisasi bisa naik lagi tingkat kemiskinannya,” ujarnya.
Faktor lainnya, masih kata Bhima, juga berkaitan dengan survei Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilakukan saat masa panen raya. Sehingga jumlah penduduk miskinnya menurun.
“Kan sebagian besar penduduk miskin bekerja di sektor pertanian. Kalau panen raya buruh tani ikut naik pendapatannya, wajar kemiskinan turun,” katanya.
Bhima juga mengkritisi tingkat ketimpangan yang menurun. Berdasarkan data BPS, faktor yang membuat ketimpangan menurun adalah karena porsi pengeluaran penduduk 20% teratas berkurang dari 46,4% ke 46,09%. Ia menduga orang kaya Indonesia menahan belanjanya karena khawatir akan ketidakpastian kondisi makro ekonomi.
Sementara itu, porsi kelompok 40% pengeluaran terbawah naik dari 17,12% ke 17,29% dalam 1 tahun terakhir. Pengeluaran kelas bawah, kata Bhima, didorong oleh bantuan sosial dan beras sejahtera yang jumlahnya naik signfikan.
“Artinya ketimpangan yang seolah-olah turun sebenarnya juga semu,” ujarnya.* Andi