Hidayatullah.com– Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendesak pemerintah untuk memenuhi hak pendidikan anak-anak terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Komisioner KPAI bidang Pendidikan Retno Listyarti menungkapkan, gempa NTB selama beberapa pekan terakhir membuat ancaman baru bagi keberlangsungan proses pembelajaran di berbagai sekolah.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dikutipnya, ada 468 sekolah yang mengalami kerusakan akibat gempa NTB.
“KPAI menerima beberapa laporan berupa deskripsi singkat sekolah yang kondisi bangunannya terdampak gempa, dimana ruang-ruang kelas mengalami keretakan hingga pondasi sehingga berpotensi runtuh dan membahayakan anak-anak jika kelas-kelas tersebut dipergunakan untuk proses pembelajaran,” ujar Retno kepada hidayatullah.com pekan kemarin.
KPAI menekankan, anak-anak korban gempa harus terpenuhi haknya atas pendidikan dengan tidak mengacu pada batas penetapan situasi darurat yang sebelumnya dinyatakan akan berakhir pada 11 Agustus 2018. Tanggap darurat tersebut diketahui telah diperpanjang masanya.
“Kebutuhan dasar anak seperti kebutuhan sandang-pangan-papan, kesehatan, dan pendidikan harus dipenuhi oleh Pemerintah karena proses rehab dan rekonstruksi membutuhkan waktu sangat lama,” desaknya.
KPAI menerima laporan dari SGI (Serikat Guru Indonesia) Mataram yang merupakan anggota FSGI (Federasi Serikat Guru Indonesia) terkait kondisi beberapa sekolah di Mataram yang terdampak gempa.
Di antaranya, kondisi SMPN 12 Mataram yang mayoritas kondisi ruang kelasnya sangat tidak aman untuk kegiatan pembelajaran.
Ada 9 ruang kelas yang temboknya pecah dan bahkan sudah bergeser ,dan 2 ruangan kelas yang plafonnya berpotensi jebol/runtuh. Sementara di ruang kelas lainnya plafonnya sudah berjatuhan, sehingga jika diguncang gempa lagi sangat berpotensi membahayakan peserta didik, karena peserta didik yang belajar di ruangan kelas tersebut rawan tertimpa reruntuhan genteng dari atap sekolah. Kerusakan juga terjadi di ruang guru, ruang labotarium, ruang wakasek, ruang kepsek, ruang perpustakaan, dan mushalla.
Kemudian, ungkapnya, SDN 1 Obel-obel di Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, kondisinya rusak berat sekitar 80% dari bangunan. Dimana 10 ruang kelas retak-retak temboknya, ruang guru dan ruang kepsek dalam keadaan rusak.
“Sekolah sudah diliburkan sejak 29 Juli 2018, dan sejak diliburkan gempa susulan terus terjadi sehingga genteng-genteng sekolah jatuh dan menjebol plafon dan enternit kelas. Seluruh pagar sekolah (sekeliling luasnya sekolah) ambruk seluruhnya. Kursi meja di dalam kelas yang masih bagus kondisinya dikeluarkan untuk diletakan di posko pengungsian,” ungkapnya.
Kemudian, kondisi SMAN 1 Gunung Sari, Lombok Barat, termasuk beruntung karena hanya mengalami kerusakan ringan, yaitu beberapa genteng jatuh dan menimpa plafon hingga pecah. Selain itu, hanya 1 tiang teras (selasar kelas) yang miring.
Lalu SMPN 20 Mataram, Jl Lalu Mesir, Kecamatan Sandubaya, Mataram. Kondisinya 7 ruangan belajar rusak. Anak-anak terancam keselamatan maupun kenyamanan belajarnya di dalam ruangan maupun waktu istirahatnya di luar ruangan di lingkungan sekolah karena temboknya retak-retak meluas dan plafonnya berjatuhan. Selain itu, kerusakan juga terjadi di ruang guru, ruang labotarium IPA, ruang perpustakaan, dan ruang penjaga sekolah.
“Jika di Kota Mataram saja kerusakan-kerusakan di sekolah terbilang sedang sampai berat, bagaimana kondisi gedung-gedung sekolah di Lombok Timur dan Lombok Utara yang lebih dekat dengan pusat gempa,” ungkap Retno.*