Hidayatullah.com– Bakal calon wakil presiden RI Sandiaga Salahudin Uno didampingi dai kondang Ustadz Abdul Somad (UAS) saat mengikuti acara prosesi adat di Pekanbaru, Riau, pekan ini.
Sandi menerima prosesi adat “tepuk tepung tawar” dari Lembaga Adat Melayu Riau dalam kunjungannya ke Pekanbaru.
Informasi dihimpun hidayatullah.com, hadir dalam prosesi adat ini Ketua Majelis Kerapatan Adat Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau Datuk Al Azhar, Ketua DPH LAM Datuk Syahril Abu Bakar, dua mantan Gubernur Riau Saleh Djasit dan Wan Abu Bakar, serta UAS
“Ustad Abdul Somad, @ustadzabdulsomad sebagai anggota Majelis Kerapatan Adat LAM Riau mengakhiri prosesi adat Tepuk Tepung Tawar, yakni memimpin doa dan juga memberikan nasihat,” tutur Sandi lewat akun Instagramnya, Rabu (04/09/2018).
UAS memberikan pantun nasihat kepada Sandiaga saat prosesi adat “Tepuk Tepung Tawar” di Balat Adat Melayu Riau, Pekanbaru, Selasa sore.
“Manusia boleh buat tipu daya, apalah susah bermain kata, apalagi bermain citra. Tapi ada Yang Maha Kuasa, bila dia berkehendak semua nyata. Detak jantungmu dalam kuasanya, bila Dia katakan kun kaupun sirna,” ungkapnya yang bergelar Datuk Seri Ulama Setia Negara ini lansir Antarariau, Rabu (04/09/2018).
UAS juga memberi pantun nasihat kepada Sandiaga Uno tentang amanah yang diberikan Allah.
Diungkapkannya pantun berbunyi, “Kalau mentari duduk di istana tentulah kaki akan melangkah. Kalau Allah titipkan kuasa, jangan angkuh semena-mena. Kalau Allah titipkan kuasa, kaya dan miskin dipandang sama. Kalau Allah tutipkan kuasa, cerdik mulia bodoh dibina. Kalau Allah titipkan kuasa, jangan asyik bersolek rupa. Kalau Allah titipkan kuasa, padi disemai dipetik serta. Kalau Allah titip kuasa, bagilah minyak itu merata-rata.”
Dalam prosesi ini Sandiaga duduk di bangku layaknya pelaminan yang kemudian diolesi telapak tangannya dengan bedak ramuan. Kemudian Sandiaga ditabur oleh masing-masing datuk tersebut termasuk UAS.
“Hari ini rasanya saya jadi manusia paling bahagia. Betapa tidak, sejak saya dilahirkan pada 28 Juni 1969 saya melihat dunia fana ini di Rumbai, Pekanbaru, Riau. Hari inilah puncak kebahagiaan itu,” ungkap Sandiaga.
Sandiaga mengatakan, ia merasa bahagia beriringan kembali melihat kampung halaman, tanah kelahiran, dan akar sejarah keluarganya. Dia terbayang betapa indahnya keluarga kecilnya hidup berbahagia di tanah Melayu Riau.
“Dalam kebahagian tersebut terlintas mimpi di Bumi Riau yang kaya karena rahmat Allah, di bawah minyak di atas pun minyak. Ke depan kita harus perjuangkan barakah rizki ini harus dirasakan dengan majunya ekonomi Riau, tumbuhnya lapangan kerja seluas luasnya dan harga stabil terjangkau,” ungkapnya.
Untuk itu, dia mengajak masyarakat untuk bersatu, damai, berangkulan tangan, berpelukan memberantas kebodohan, dan menyingkirkan kemiskinan.
“Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh,” imbuhnya.
Ketua Dewan Pimpinan Lembaga Adat Melayu Riau, Datuk Syahril Abu Bakar, mengatakan, kegiatan terhadap Sandiaga adalah murni acara masyarakat adat. Meski begitu jika ada dampak politik nantinya, itu di luar kemampuannya.
“Tepuk tepung tawar ini murni acara masyarakat adat, tidak ada politik, kalau berdampak politik silakan. Sandiaga Uno sangat prestasi luar biasa di bidang usaha dan beberapa tahun terakhir terjun ke dunia politik, karena terpanggil melihat banyak rakyat butuh pertolongan,” ujarnya.*