Hidayatullah.com– Wakil Gubernur Sulawesi Selatan Sudirman Sulaiman membuka secara resmi Pelatihan Pengelolaan Rumah Tahfizh se-Sulawesi Selatan oleh Biro Kesejahteraan Sekretariat Daerah Provinsi Sulawesi Selatan di Golden Hotel Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (27/11/2018).
Dalam sambutannya, Wagub Sulsel Sudirman Sulaiman menaruh harapan besar, dengan program satu desa satu rumah tahfizh, para penghafal bisa mentransformasi pemahaman fundamental keislaman umat yang kebanyakan berislam karena keturunan.
“Agama Islam diturunkan dengan sempurna, di sana ada standar aturan yang harus diimplementasikan, beragama harus sesuai sop (tuntunan), sehingga masyarakat harus dibuat cerdas beragama,” tuturnya.
Tiba di Hotel Golden Makassar sekitar pukul 13.00 WITA, Wagub didampingi langsung oleh penanggung jawab kegiatan, Kepala Biro Kesejahteraan Sekretariat Daerah Suherman. Wagub disambut dengan meriah sekitar 60 pembina pondok dan rumah tahfizh se-Sulsel yang sudah menunggu sejak pukul 09.00 pagi.
Wagub juga berharap program satu desa satu rumah tahfizh dapat men-counter sejak dini proses pencucian otak anak melalui tayangan televisi dan tontonan online yang begitu masif yang menurutnya sangat berbahaya.
“Pikiran anak yang sudah tercuci oleh tayangan dan tontonan yang tidak bagus, seperti komputer yang sudah terinstal, susah nanti merubahnya karena sudah terprogram dengan perintah yang tidak bagus,” tegas pria kelahiran 25 September 1983 itu.
Di hadapan peserta pelatihan, suami dari Naoemi Octarina ini bercerita pengalaman pertama pindah dari Jakarta ke Makassar.
“Anak pertama saya sejak usia 3 bulan dalam kandungan sering diputarkan murattal surah-surah pilihan, pada saat masuk usia sekolah Alhamdulillah mulai menghafal di sekolah Islam, sekolahnya di Jakarta tidak pernah diajarkan nyanyian.
Pada saat pindah ke Makassar, di sekolah barunya disuruh bernyanyi, karena tidak biasa bernyanyi, anak saya meminta kepada gurunya agar disuruh menghafal saja.
“Sampai di rumah anak saya protes: Abi, saya kasih waktu 2 hari kalau di sekolah masih disuruh menyanyi, saya mau kembali ke Jakarta saja,” ceritanya disambut tawa oleh pimpinan pondok dan rumah tahfizh yang menjadi peserta pelatihan.
Sebelum mengakhiri sambutannya, Sudirman Sulaiman mendorong seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama serius berupaya memperbaiki keadaan. Sehingga, pada akhirnya lahirlah generasi-generasi yang memiliki prinsip. Menurutnya, banyak orang yang pintar tetapi semakin cerdas mengakal-akali keadaan.
“Mohon saya dibantu dan didoakan, karena saya Sudirman bukan superman. Saya mungkin hanya bisa memperbaiki satu, mudah-mudahan dari generasi penghafal Al-Qur’an akan lahir pemimpin yang lebih baik yang bisa memperbaiki keadaan bangsa dan negara kita,” tutupnya dengan suara yang hampir tak terdengar menahan haru, sambil menyeka air mata.* Irfan Yahya