Hidayatullah.com– Sejarawan Alwi Alatas, menuturkan, selama ratusan tahun, buku telah menjadi bagian penting dari peradaban umat manusia. Buku menjadi medium transmisi pengetahuan kepada masyarakat dan bahkan lintas generasi.
“Memang tidak dipungkiri bahwa buku hanyalah salah satu medium untuk merekam tulisan. Tulisan inilah yang menjadikan umat manusia memasuki fajar sejarah, dalam arti membuka ruang bagi disiplin ilmu sejarah yang sumber-sumber utamanya adalah catatan-catatan tertulis,” ujarnya kepada hidayatullah.com di Jakarta, pada Selasa (23/04/2019).
Pada awalnya, kata pria yang sudah menulis 25 buku ini, tulisan direkam di atas tablet-tablet tanah liat di Mesopotamia, lembaran-lembaran papirus dan dinding-dinding monumen di Mesir kuno, di kepingan tulang dan cangkang kura-kura, serta di pipihan bambu dan lembaran sutera di China dahulu kala.
Kemudian tulisan dibubuhkan di atas kertas, dimulai di China dan disebarluaskan oleh peradaban Islam, yang lantas memungkinkan manusia memiliki buku-buku hingga sekarang ini.
Dalam beberapa dekade terakhir ini, manusia mulai mengenal teks-teks serta buku-buku digital yang menurutnya, bukan mustahil akan menggantikan eksistensi buku konvensional ke depannya.
“Tapi saya kira, apa pun mediumnya, atau bagaimanapun bentuk ‘buku’-nya, hal terpenting yang perlu diperhatikan adalah fungsinya sebagai alat transmisi pengetahuan,” kata dosen International Islamic University Malaysia (IIUM) ini.
Dan aktivitas utama manusia berkenaan dengannya, lanjut Alwi, adalah ‘membaca’. Ia mengingatkan kepada kaum Muslimin akan pesan Al-Qur’an sejak awal, yakni Iqra’ (bacalah)!
“Dan yang tidak kalah penting adalah dengan menjadikan aktivitas utama ini sebagai medium yang mengingatkan kita pada Sang Pencipta,” pesannya.* Andi