Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Walhi: Pemerintah Tak Konsisten pada Proyek OBOR dengan China

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 29 April 2019 21:32 9:32 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 29 April 2019 21:32
Bagikan
Menko Maritim, Luhut Pandjaitan (kedua kiri) menyaksikan penandatanganan kerja sama oleh Deputi Infrastruktur Kemenko Kemaritiman Ridwan Djamaluddin dan Wakil Kepala Bappenas China, Ning Jizhe.
Bagikan

Hidayatullah.com– Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) menilai pemerintah Republik Indonesia tidak konsisten dalam proyek One Belt One Road (OBOR) —atau yang lebih anyar disebut Belt and Road Initiative (BRI) yang bekerja sama dengan pemerintah Republik Rakyat China.

Manajer Kampanye Keadilan Iklim Walhi Yuyun Harmono, menilai, inkonsistensi tersebut terlihat dari masih adanya 4 proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) menggunakan batu bara yang pemerintah tawarkan kepada China untuk dibiayai dari total 28 proyek strategis.

“Padahal Menko Luhut menyebutkan proyek yang dibangun harus ramah lingkungan tanpa terkecuali,” jelas Yuyun dalam diskusi di Jakarta, Senin (29/04/2019).

Keempat proyek PLTU yang ditawarkan pemerintah kepada China antara lain PLTU Tanah Kuning-Mangkupadi di Kalimantan Utara, dua PLTU Mulut Tambang di Kalimantan Selatan dan Tenggara, serta PLTU Ekspansi Celukan Bawang Bali 2.

Baca: Malaysia Tangguhkan 3 Proyek Besar China

“Pemerintah harusnya tidak menawarkan proyek-proyek itu karena tidak memenuhi syarat ramah lingkungan,” tegas dia.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Yuyun menilai pemerintah tidak punya sensitivitas terhadap lingkungan hidup dan perubahan iklim.

Dia menambahkan selain menawarkan proyek PLTU yang menghasilkan energi kotor hasil pembakaran batu bara, pemerintah juga menawarkan sejumlah proyek energi bersih seperti PLTA.

“Meskipun ada juga proyek PLTA yang ditawarkan, perlu dilihat apakah bermanfaat bagi masyarakat dan prosesnya berjalan benar,” tambah Yuyun lansir Anadolu Agency.

Dia menambahkan berdasarkan advokasi yang dilakukan Walhi, masih banyak proyek yang dibangun tidak melalui proses pengkajian analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) yang benar.

“Banyak proses yang tidak benar seperti kajian Amdal yang dipalsukan, tidak adanya konsultasi dengan masyarakat, dan juga pengabaian dampak sosial yang harus ditanggung masyarakat,” imbuh Yuyun.

Sementara itu, Koordinator Kampanye Walhi Edo Rahman mengatakan pemerintah mengaku keterlibatannya dalam proyek BRI hanya sebatas pada studi kelayakan dan penyusunan Amdal.

Kemudian untuk proyek-proyek yang dikerjasamakan menggunakan skema Business to Business (BtoB) antara perusahaan Indonesia dan perusahaan China.

“Pertanyaannya apakah keterlibatan pemerintah dalam studi kelayakan sudah dilakukan dengan baik?” ketus Edo.

Dia mengatakan Walhi banyak menemukan proses pembuatan Amdal dan studi kelayakan yang dilakukan tidak secara profesional karena dianggap tidak penting.

“Proses pembuatan Amdal sampai terbit izin lingkungan ada yang menggunakan pemalsuan tandatangan ahli,” ungkap Edo.

Edo menambahkan proses pembuatan Amdal dan studi kelayakan tidak bisa dilakukan sembarangan karena mengejar waktu, sehingga mengabaikan kualitas.

Baca: Din: China hanya Melanjutkan Perilaku Hegemonik AS

Diketahui sebelumnya, China menandatangani kontrak proyek-proyek baru senilai USD 64 miliar atau hampir senilai Rp 908 ribu triliun, dalam skema Belt and Road Initiative (BRI) -dulu dikenal sebagai One Belt One Road (OBOR).

Kerja sama itu disepakati dalam Belt and Road Forum di Beijing, yang dihadiri 37 kepala negara dan berakhir Sabtu (27/04/2019).

Kesepakatan kerja sama itu diteken langsung oleh Presiden China, Xi Jinping, dengan negara-negara mitra dalam BRI. Kesepakatan ini merupakan proyek tahap lanjutan OBOR.

Dalam forum itu, kehadiran Indonesia diwakili oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). JK melawat ke Beijing, didampingi Menko Bidang Kemaritiman, Luhut Pandjaitan dan Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi.

Menurut Luhut Belt and Road Initiative telah menjadi alternatif untuk mendukung proyek-proyek pembangunan. Menurutnya ini menunjukkan bahwa China, sebagai aktor utama, mampu menanggapi kebutuhan masyarakat internasional.

“Indonesia mengalokasikan empat koridor untuk proyek BRI. Yakni di Sumatera Utara, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, dan Pulau Bali,” katanya seperti kutip laman resmi Kemenko Maritim.

Menurut Luhut, jumlah total populasi keempat provinsi ini di atas 30 juta orang. Kecuali untuk Bali, ketiga provinsi ini memiliki angka kemiskinan sekitar 7-9 persen. Sehingga kata Luhut, proyek-proyek BRI harus berkontribusi dalam pengurangan tingkat kemiskinan di ketiga provinsi tersebut.

Tapi Luhut tak mengungkap nilai yang dikerjasamakan dengan China dalam kerangka BRI tersebut.

Salah satu proyek yang dikerjasamakan dalam skema BRI di Sumatera Utara, yakni Pelabuhan Kuala Tanjung.

Hal ini dituangkan dalam kerja sama yang ditandatangani oleh Deputi Infrastruktur Kemenko Kemaritiman, Ridwan Djamaluddin dan Wakil Kepala Bappenas China (National Development and Reform Comission), Ning Jizhe.

“Kita manfaatkan jaringan China untuk meningkatkan performa Kuala Tanjung ini. Mereka bersedia memanfaatkan network mereka untuk menggunakan jasa pelabuhan Kuala Tanjung,” kata Luhut.

Pertama diluncurkan pada 2013, OBOR saat itu baru mengikat kerja sama China dengan 64 negara.

Dalam forum kali ini, sudah 126 negara tergabung dalam BRI. Portugal, Austria, Uni Emirat Arab, Singapura, dan Thailand di antara para penandatangan baru kali ini.*

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:Belt and Road InitiativeBRIchinaChinaisasiOBOROne Belt One RoadPLTUWALHI
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Pertanyakan Honor Pemilu, Ratusan Polisi Gelar Aksi Protes & Bakar Ban
Tulisan selanjutnya Relawan IT BPN Temukan 9.440 Kesalahan Input Data ke Situng KPU

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama

Berita
3 Juni 2026 13:30
Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
Kapal Kargo Turki Diserang Drone di Laut Hitam
‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
Tak Ada Donatur yang Menyumbang, Board of Peace ala Trump Terancam Gagal

Terbaru

  • ‘Israel’ Klaim Penjualan Senjata ke Negara Arab Melonjak Tajam, Banyak yang Beli Diam-Diam
  • Turki Siapkan Proyek Kereta Hijaz sebagai Alternatif Selat Hormuz
  • Harga Obat Terancam Naik, DPR Minta Perlindungan untuk Pasien Penyakit Kronis
  • Bantah Menolak Lepas Kendali Gaza, Hamas: Kebohongan ‘Israel’
  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?