Hidayatullah.com– Bantuan sosial, khususnya yang diberikan tunai, akan mendorong konsumsi rokok di kalangan para penerimanya. Demikian hasil penelitian Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI).
Selain itu, hasil penelitian juga menemukan bahwa penerima Program Indonesia Pintar memiliki peluang sembilan persen poin lebih tinggi untuk merokok dibandingkan bukan penerima program tersebut.
“Penerima bantuan sosial memiliki kecenderungan merokok lebih tinggi daripada bukan penerima bantuan sosial,” ungkap Ketua TIm Peneliti PKJS UI Teguh Dartanto saat peluncuran hasil penelitian di Jakarta, Selasa (02/07/2019).
Penelitian ini juga menemukan bahwa penerima bantuan sosial memiliki konsumsi rokok secara nilai dan kuantitas lebih besar dibandingkan bukan penerima bantuan sosial.
Teguh menjelaskan, penerima Program Keluarga Harapan memiliki pengeluaran rokok Rp 3.660 per kapita per pekan dan 3,5 batang per kapita per pekan lebih tinggi dibandingkan bukan penerima program.
Selain itu, PKJS UI juga menemukan bahwa indikator sosial ekonomi penerima bantuan sosial (Bansos) yang merokok lebih rendah daripada penerima bantuan sosial yang tidak merokok.
“Keluarga penerima bantuan sosial yang merokok memiliki konsumsi kalori, protein, lemak, dan karbohidrat yang jauh lebih rendah daripada yang tidak merokok,” ungkap Teguh.
Penelitian ini juga menemukan hubungan antara tingkat pendidikan anak penerima bantuan sosial dengan perilaku merokok keluarga.
Ternyata, capaian pendidikan anak dari keluarga penerima bantuan sosial yang merokok jauh lebih rendah daripada keluarga penerima bantuan sosial lain yang tidak merokok.
“Selain itu, keluarga penerima bantuan sosial yang merokok juga memiliki anak putus sekolah yang lebih tinggi daripada yang tidak merokok,” tambahnya kutip Antaranews.com.
Perilaku merokok keluarga penerima bantuan sosial juga berhubungan dengan tingkat kesakitan anak. “Anak dari keluarga penerima bantuan sosial yang merokok lebih sering sakit daripada yang tidak merokok,” ujarnya.
PKJS UI meluncurkan hasil penelitian “Bantuan Sosial, Konsumsi Rokok, dan Indikator Sosial Ekonomi Rumah Tangga di Indonesia”.
Penelitian PKJS UI ini memakai data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2016 dan 2017 serta data Survei Kehidupan Keluarga Indonesia (IFLS) Gelombang IV dan V.
Temuan penelitian itu harus disikapi secara hati-hati, kata dia, yaitu tidak dengan serta merta bantuan sosial dihentikan.
“Bantuan sosial secara tujuan bagus, tetapi keefektifannya berkurang karena ada perilaku merokok dari para penerima bantuan,” ujarnya.*