Hidayatullah.comHidayatullah.comHidayatullah.com
Pemberitahuan Lebih Banyak
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Font ResizerAa
Hidayatullah.comHidayatullah.com
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Pencarian
  • Beranda
  • Berita
  • Kajian
  • Artikel
  • Kolom
  • Feature
  • Ragam
  • Hidcompedia
  • Fiqih
  • Sejarah
  • Palestina
  • Khutbah Jumat
Nasional

Jokowi: Cap Antek Asing & Antek Aseng Bentuk Emosi Keagamaan

Admin Hidcom
Terakhir diupdate: 18 September 2019 16:21 4:21 pm
Admin Hidcom
Dipublikasikan 18 September 2019 16:21
Bagikan
Bagikan

Hidayatullah.com– Presiden Joko Widodo menyebut bahwa sikap langsung mencap sebagai antek asing merupakan emosi keagamaan. Hal itu ia sampaikan sambil meminta agar masyarakat dapat menerima kerja sama dengan orang asing di Indonesia dan tidak langsung mencap antek asing.

“Di internal kita sendiri termasuk makin mampu mengelola orang asing yang ingin bekerja sama dengan kita, dengan catatan menguntungkan bangsa kita. Jangan apa-apa, belum-belum sudah antek asing, antek aseng, itu namanya emosi keagamaan,” ujar Jokowi dalam sambutannya pada Pembukaan Forum Titik Temu “Kerja Sama Multikultural untuk Persatuan dan Keadilan”, di sebuah hotel di Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (18/09/2019).

Dalam kesempatan itu, Jokowi menyinggung keberhasilan Uni Emirat Arab (UEA) meloncat menjadi negara yang sangat makmur dan maju dengan pendapatan per kapita 43 ribu dollar AS.

“40 tahun yang lalu, Uni Emirat Arab merupakan negara yang tertinggal. Tingkat melek hurufnya rendah, tingkat pendidikannya tertutup dan tradisional,” ungkapnya.

Menurut Jokowi, Pemimpin UEA Syeikh Mohammed pernah bercerita kepada dirinya di dalam mobil berdua. Menurut Perdana Menteri dan Wakil Presiden UEA itu, pada tahun 1960-an, warganya masig menggunakan unta untuk mencapai Abu Dhabi dari Dubai (ibukota UEA), sementara Indonesia sudah naik Holden dan Impala.

Baca Juga

Lukmanul Hakim MUI wafat
KH Dr. Lukmanul Hakim, Pejuang Ekonomi Umat yang Berpulang
Layanan SIHALAL Bermasalah, ALPHI Minta Dikembalikan Ke Sistem Lama
LPPOM Bersama ALPHI Kupas Tuntas Tarif dan Waktu Proses Sertifikasi Halal
PAD Kota Depok Meningkat Tanpa Iklan Rokok
Pembukaan Silatnas 2023, Pj Gubernur Kaltim Puji Kiprah Dai – Daiyah Hidayatullah

Tapi begitu, mereka meloncat begitu sangat cepatnya, dan juga Sovereign wealth fund-nya sekarang ini mencapai 700 milliar dollar AS, masuk dalam 3 besar dunia. Sekarang menjadi ikon kemajuan dunia dengan kota termodern dan terindah dan menjadi ajang untuk kemajuan teknologi dunia di sana. Menurut Jokowi, dalam hal sumber daya alam, Indonesia jelas lebih kaya dibandingkan Uni Emirat Arab. Mereka punya minyak, Indonesia juga punya minyak.

Menurutnya, mereka enggak punya hutan, Indonesia punya hutan dan kayu. Mereka enggak punya tambang, Indonesia punya batu-bara, nikel, bauksit, emas, tembaga. Mereka tidak punya lahan subur, Indonesia punya. Mereka tidak punya tambang mineral batubara dan lain-lainnya yang disampaikan, Indonesia punya.

“Menurut saya salah satu kunci utamanya adalah keterbukaan dan toleransi. Dan itu saya dapatkan langsung dari beliau, Syeikh Mohammed. Apa? Keterbukaan dan toleransi,” sebut Jokowi.

Baca: Legislator: Kita Ingin Kuatkan Nasionalisme, Kok Impor Rektor

Menurut Jokowi menyampaikan, mereka berani mengundang talenta-talenta top dunia yang menjadi CEO dan tenaga ahli, yang kemudian satu per satu digantikan oleh warga asli di Uni Emirat Arab. Mengundang puluhan perguruan tinggi ternama dunia, termasuk rektor, termasuk dosen ,termasuk guru-guru hebat dari negara-negara lain.

Sementara di Indonesia, menurut Jokowi, baru ide, gagasan…ada 4.700 akademi, politeknik, universitas, perguruan tinggi, baru ngomong-ngomong dikit aja, gimana kalau kita pakai 3 universitas kita atau politeknik kita atau akademi kita pakai rektor asing. “Tapi belum. Baru berbicara seperti itu, sudah langsung Presiden Jokowi antek asing,” sebut Jokowi.

Menurut Jokowi, isu kemajukan bukan semata-mata isu sosial atau isu-isu politik. Tetapi penerimaan terhadap kemajemukan adalah juga menjadi isu pembangunan ekonomi.

“Tanpa adanya penerimaan terhadap kemajemukan, tanpa adanya penerimaan terhadap anggota warga dengan latar belakang yang berbeda-beda, maka masyarakat tersebut akan menjadi masyarakat yang tertutup dan tidak berkembang,” klaim Jokowi.

Baca: Komisi X DPR: Urgensinya Apa Mendatangkan Rektor Asing

Oleh karena itu, Jokowi mengajak kembali kepada semangat berdirinya negara ini, yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Yang mampu mengelola kemajemukan di internal bangsa, yang bisa menjadi teladan, menjadi panutan dunia dalam merawat toleransi dan persatuan, dan juga berani terbuka untuk kemajuan bangsa.

Acara tersebut juga dihadiri Wakil Presiden ke-6 Try Sutrisno, Ibu Negara Indonesia keempat Sinta Nuriyah Wahid, cendekiawan muslim Quraish Shihab, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan tokoh-tokoh lainnya.

Sebelumnya diberitakan hidayatullah.com, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih turut mengkritik wacana pemerintah melalui Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) yang akan mendatangkan (impor) rektor asing.

Impor rektor untuk memimpin di sejumlah perguruan tinggi dalam negeri Indonesia dinilai telah menodai prestasi para akademisi sekaligus tak menghargai Sumber Daya Manusia (SDM) bangsa sendiri.

Fikri mempertanyakan, dampak negatif globalisasi saja belum mampu diatasi, mengapa pemerintah menambah persoalan baru dengan mengimpor rektor asing. Itu sangat ironis.

Baca: Pengamat Nilai Lebih Baik Berdayakan Putra Bangsa daripada Impor Rektor

Legislator dapil Jateng IX ini melihat, banyak ironi di balik kebijakan Menristekdikti yang mengusulkan rektor asing bisa memimpin perguruan tinggi Indonesia.

Bukankah, ungkapnya, pemerintah mengakhawatirkan intervensi asing. Mengapa justru mendatangkan rektor asing yang membuka kemungkinan intervensi tersebut.

“Kita mengkhawatirkan intervensi asing di era sekarang, malah kita impor rektor. Kita ingin menguatkan nasionalisme, jawabannya kok impor rektor. Bahkan, kita mencurigai dosen, mahasiswa, dan semua civitas academika kita sendiri dengan melakukan screening dari ideologi asing, kok, malah kita longgar dengan warga asing yang jelas mereka tak akan bisa menanamkan nilai-nilai ideologi negara kita,” ungkapnya, Kamis (08/08/2019), kutip laman resmi DPR RI.* (Antaranews/Setkab)

Redaktur: Admin Hidcom
Bantu kami terus menyuarakan kebenaran!

Scan QRIS dan dukung #Journalism4Ummah

donasi online
TAG:asengasingimpor rektorJokowikeberagamaanPresiden Joko Widodorektor asing
Bagikan tulisan ini
Facebook Whatsapp Whatsapp Telegram Email Salin tautan Print
Tulisan sebelumnya Babel Siap Sambut Para Ulama Peserta Kongres Umat Islam
Tulisan selanjutnya MUI Gelar Pelatihan Advokasi Sengketa Ekonomi Syariah

Ikuti Kami

1.2KLike
89KFollow
27.8KFollow
222KSubscribe
Ad image
Ad image

Terpopuler

Berita

Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki

Berita
3 Juni 2026 13:00
Singapura Terbitkan Panduan untuk Bantu Orang Tua Kurangi Screen Time Anak
Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
Prancis Minta Pelecehan Terhadap Aktivis Gaza Flotilla oleh Israel Diselidiki

Terbaru

  • Bachtiar Nasir: Pesantren Hadapi Ujian Besar Kepercayaan Publik di Era Digital
  • Ekonomi Syariah Global Tembus USD 8,6 Triliun, Indonesia Harus Naik Kelas Jadi Produsen Utama
  • Presiden Erdogan Kini Punya 10 Cucu, Kabar Bahagia Datang dari Keluarga Presiden Turki
  • Hampir 135 Ribu Jamaah Indonesia Salurkan Dam Lewat Adahi, Daging Diprioritaskan untuk Palestina
  • MUI: Qurban Presiden dengan Dana APBN untuk Masyarakat Sah dan Sesuai Syariat
  • Panas! Iran Hantam Pangkalan AS di Kuwait Setelah Serangan ke Pulau Qeshm
  • Hakim Agung Palestina: RUU Pembatasan Adzan adalah Pelanggaran Kebebasan Beribadah
  • ‘Israel’ Tunjuk Roman Gofman Jadi Kepala Mossad, Loyalis Netanyahu yang Dukung Pendudukan Gaza
  • Iran Tegaskan Siap Tempur Lebih Kuat Jika Perang dengan AS Kembali Pecah
  • Perkuat Kompetensi Amil Zakat dan Nazir Wakaf, Kemenag Gelar Sertifikasi Profesi

Mungkin Anda Juga Suka

BeritaBerita dari AndaNasional

Workshop Tenun dan Tudung Manto untuk Santri dan Masyarakat Lingga

6 November 2023 08:51
BeritaLensaNasional

Investasi LM Antam untuk Pendidikan Anak

13 September 2023 11:00
BeritaLensaNasional

[Foto] Belajar Gosok Gigi yang Benar

29 Juli 2023 07:00
BeritaNasional

Dukung Kegiatan PFI, Eri Cahyadi Tawarkan untuk Pameran Foto Berikutnya

14 Mei 2023 07:35
Hidayatullah.comHidayatullah.com
Follow US
Copyright 2023 © Hidayatullah.COM
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Informasi Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Indeks
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lupa password?