Hidayatullah.com– Anggota DPD RI DKI Jakarta Fahira Idris memandang, sepanjang 2019 ‘wajah’ Jakarta penuh warna. Tidak hanya fisik kotanya tetapi juga manusianya. Jakarta bukan hanya lebih tertata, tetapi kehidupan warganya juga lebih menggeliat.
Tidak hanya karena deretan prestasi yang diraih Jakarta, tetapi katanya juga karena kemajuan dan keadilan sosial yang semakin dirasakan warganya.
“Kini, pemandangan di jalanan besar Jakarta tidak lagi sekadar ‘hutan beton’. Trotoar besar, indah, dan nyaman bagi saudara kita penyandang disabilitas telah menjadikan kota ini milik bersama. Kini, laju kendaraan bermotor sudah bersaing dengan ramahnya deru transportasi umum yang modern, terjangkau, dan terintegrasi,” ujarnya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta dalam pernyataannya kepada hidayatullah.com, Senin (30/12/2019).
Menurut Ketua Umum Ormas Kebangkitan Jawara dan Pengacara (Bang Japar) ini, di kampung-kampung kota, pemandangannya juga berubah. Kampung yang dulu rata dengan tanah kini dibangun kembali. Bahkan warga diberi ruang seluas-luasnya untuk merencanakan wajah kampung yang mereka inginkan.
“Kampung-kampung yang dulu dianggap beranda belakang dan harus diasingkan dari modernitas kota, kini sedang dikembalikan derajatnya sebagai bagian integral dari pembangunan Jakarta menjadi kampung berkualitas yang lestari dan sejahtera serta warga di dalamnya berdaya,” ujarnya.
Selain itu, sambungnya, keakraban antarwarga-pun semakin hangat. Hari besar keagamaan diperingati penuh hikmat dan kemeriahan. Festival kebudayaan lebih semarak dan dijadikan ‘penajam’ cipta, rasa, dan karsa warga Jakarta. Ruang-ruang publik tidak hanya ditata dan dihadirkan lebih banyak tetapi dijadikan ruang pertemuan warga untuk bercengkrama. Sebuah kota besar dan sibuk seperti Jakarta memang butuh banyak ruang bagi warganya untuk berhenti sejenak menanak rasa kebersamaan.
Menurut Wakil Ketua Badan Pengkajian MPR RI ini, hal itu semua terjadi karena paradigma pembangunan di Jakarta berubah.
Jika dulu, katanya, pemegang kuasa (pemerintah provinsi) masih menempatkan dirinya sebagai administrator/penyedia jasa dan warga sebagai penghuni atau konsumen, tetapi kini paradigma tersebut sudah berganti. Pemegang kuasa kini berubah menjadi kolaborator sedangkan warga sebagai kreator. Warga yang dulu dianggap bagian dari masalah, kini sudah menjadi bagian dari solusi.
Ia memandang semua lini kehidupan di Jakarta melaju: ekonominya tumbuh di atas rata-rata nasional; menjadi provinsi dengan indeks demokrasi tertinggi di Indonesia, berhasil membuka kesempatan kerja lebih luas; ditasbihkan tiga besar kota terbaik dunia untuk perbaikan sistem transportasi; dan deretan prestasi lain yang cukup membuat kecewa kaum pesimis melihat Jakarta dipimpin Gubernur Anies Baswedan.
“Tahun 2019, Jakarta penuh warna. Namun tahun-tahun ke depan jalan masih terjal. Membangun Jakarta, tidak cukup hanya dengan kerja kerja kerja, tetapi juga harus disertai gagasan dan narasi karena itu yang diajarkan para pendiri bangsa ini,” pungkasnya.*