Hidayatullah.com– Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin mempertanyakan tingginya harga komoditas bawang putih di pasaran. Akmal dalam rilisnya pada Selasa (11/02/2020), mengutip data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis Nasional (PIHPS) pada Ahad (09/02/2020), bahwa harga bawang putih di Provinsi DKI Jakarta sudah mencapai Rp 68.350 per kg.
Sementara di Kalimantan Timur, lanjutnya, harga bawang putih mencapai Rp 59.000 per kg dan di Yogyakarta mencapai Rp 58.750 per kg.
Kata Akmal, mestinya masih ada pasokan 133.000 ton bawang putih hingga Maret tahun 2020 ini yang merupakan sisa impor tahun 2019 lalu.
“Tahun lalu kan kita sudah impor bawang putih cukup besar, dan ini mestinya masih ada 133 ribu ton bawang yang putih yang tersebar di gudang-gudang pedagang,” ungkapnya.
Sehingga, katanya, tidak wajar kalau harga bawang putih yang biasanya rata-rata Rp 20.000 per kg, kini harganya bisa mencapai Rp 60.000 per kg, bahkan hingga Rp 68.000 per kg.
Ia menduga ada pihak yang memainkan harga komoditas tersebut. Ia mengatakan, Pemerintah mesti turun tangan, menghukum pedagang nakal dengan mencabut izinnya jika masih bermain-main menyengsarakan rakyat.
Akmal menilai, kelangkaan komoditas bawang putih ini sengaja diciptakan dengan mempermainkan supply and demand.
Sehingga, ia mendorong koordinasi dengan Bulog juga penting dilakukan agar segera melakukan operasi pasar. Para importir dan para pedagang besar, katanya, harus dipaksa melepas stoknya sehingga ada penurunan yang menjangkau daya beli masyarakat.
Ia menekankan kepada Kementerian Pertanian, melalui Direktorat Jenderal Hortikultura agar melakukan komunikasi dengan berbagai pihak, termasuk aparat sehingga stok bawang putih yang diduga ditahan oleh segelintir orang dapat ditelusuri.
“Penghentian impor bawang putih ini seharusnya berdampak jangka panjang. Jangka Pendek mestinya tidak terpengaruh karena stok masih ada berdasar data resmi Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian. Penjarakan saja para pedagang yang sengaja menimbun stok komoditas dengan tujuan menaikkan harga. Karena aktivitas para spekulan model begini yang selama ini merusak tatanan bernegara kita,” ungkapnya.
Baca: Indonesia Impor dari China Bawang Putih Ratusan Ribu Ton
Akmal mempertanyakan mengapa begitu cepat harga bawang putih naik akibat isu penghentian impor dari China untuk mencegah virus corona.
Ia menilai tidak sewajarnya bawang putih naik dengan alasan virus corona. Penghentian impor bawang putih dari China saat ini sudah sangat tepat.
“Mestinya janganlah menahan-nahan stok ini demi mengerek harga dengan isu menakutkan (virus corona),” ujarnya.
Ia menuturkan, perekonomian bangsa saat ini sudah sangat rapuh. Banyak ujian bagi rakyat Indonesia, mulai dari pertumbuhan ekonomi nasional yang minim, iklim invetasi yang buruk, UMKM-UMKM banyak yang gulung tikar, dan segala bencana alam yang terjadi di mana-mana.
“Jangan ada lagi segolongan orang yang mencoba membuat rakyat kita makin sengsara dengan mempermainkan harga komoditas yang dipakai massal,” ungkapnya dengan tegas.
Sementara itu, diberitakan hidayatullah.com sebelumnya, Indonesia akan mengimpor dari China sebanyak 103.000 ton bawang putih di tengah wabah virus corona asal China yang terus menelan korban hingga ribuan jiwa. Pihak Kementerian Pertanian (Kementan) telah mengeluarkan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) komoditas bawang putih tersebut.
“Saat ini prosesnya ada di Kementerian Perdagangan untuk pengeluaran Surat Persetujuan Impor (SPI),” ujar Dirjen Hortikultura Kementan, Prihasto Setyanto di Komisi IV DPR RI, Senayan, Jakarta Senin (10/02/2020).
Menurut Prihasto, stok bawang putih dalam negeri Indonesia saat ini lebih kurang sebanyak 70.000 ton. Stok yang ada saat ini mampu memenuhi kebutuhan sampai bulan Maret.
“Namun untuk mengatasi permintaan (pada) bulan Ramadhan, makanya kita buka keran impor bawang putih,” katanya sebagai dalih dilakukannya impor bawang putih yang disebut stoknya menipis di dalam negeri.* SKR